Angie berkeliling ke beberapa negara di Asia seperti China, Hong Kong, Singapura, Malaysia, dan Indonesia untuk menyebarkan peluang investasi di Detroit. Kisah awalnya jadi pengembang di Detroit diawali dari tak mudahnya seorang investor yang akan membeli properti di Detroit termasuk risiko kena tipu.
"Kami pengembang, kami membeli properti dari pemerintah, lalu kami renovasi dan rekondisi rumah kami tawarkan rumah-ramah tersebut ke (investor) pasar Asia," kata Angie Fong kepada detikFinance akhir pekan lalu di AXA Tower.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wanita 32 tahun ini mengatakan suaminya kini bertugas menangani operasional MIDAS di Detroit, AS. Sementara itu, ia bertugas melakukan promosi dan penjualan ke berbagai negara di Asia. Ia mengakui bisnis semacam ini selalu ada pesaing, namun biasanya perusahaan properti di Detroit hanya sebatas agen properti, bukan pengembang.
"Mungkin ada juga yang menjual juga, tetapi ternyata kalau ditelusuri mereka adalah agen, biasanya mereka ambil properti orang lain kemudian menjualnya kembali. Banyak pengalaman dari orang Singapura saat membeli dari agen-agen, kondisi rumahnya banyak masalah, misalnya ada harga rumah murah tetapi kondisinya berantakan, perlu renovasi," katanya.
Hal yang berbeda justru dilakukan oleh MIDAS, mereka membeli banyak rumah bekas dari pemerintah AS, kemudian direnovasi dan dijual kembali. Dari keuntungan menjual rumah yang telah diolah, mereka membeli rumah lagi dan seterusnya.
Berkat kegigihannya, pasangan suami istri ini kini menjadi jutawan dengan aset kurang lebih US$ 30 juta atau Rp 300 miliar. Padahal saat tiga tahun lalu, Angie dan Fabian hanya bermodal US$ 2 juta atau sekitar Rp 20 miliar.
"Kami mulai dengan US$ 2 juta, walaupun rumahnya murah untuk dibeli tetapi tak murah untuk direnovasi. Sekarang (aset) kami kurang lebih US$ 30 juta," katanya.
(hen/ang)











































