Pasar properti diperkirakan mencapai titik pertumbuhan tertinggi di semester I-2013 dan mulai menunjukkan tren menurun di semester II-2013. Saat ini dunia properti sedang dihadapkan pada siklus penurunan pertumbuhan pasar properti hingga melambat sampai 2 tahun ke depan.
Hal ini disampaikan oleh Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda dalam keterangannya dikutip Minggu (3/11/2013)
"Terkadang perlambatan properti sering dianalogikan dengan jatuhnya pasar properti. Namun sebenarnya siklus perlambatan ini jauh dari kondisi kejatuhan pasar properti. Siklus yang terjadi merupakan siklus alamiah dari sebuah siklus pasar yang ada," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kenaikan harga properti yang terjadi di pasar primer ternyata tidak diimbangi dengan pertumbuhan di pasar sekunder. Hal ini yang memberikan indikasi bahwa pasar telah jenuh dan harga di pasar primer telah over value. Over value terjadi bila perbedaan harga properti di pasar primer dan sekunder sangat jauh," katanya.
Lalu apakah harga properti di pasar primer akan jatuh ? Menutut Ali dengan melihat karakteristik konsumen segmen menengah atas, maka mereka umumnya mempunyai holding power yang sangat kuat.
"Mereka tidak akan menjual propertinya di bawah harga perolehannya karena secara finansial mereka pun tidak terlalu terganggu untuk menjual di harga yang lebih rendah. Yang terjadi kemudian adalah pertumbuhan di pasar sekunder yang akan beranjak naik sampai mencapai titik keseimbangan baru," katanya.
Menurutnya berdasarkan tren siklus yang terjadi di Indonesia, Indonesia Property Watch mencoba untuk memprediksi perlambatan yang akan terjadi di pasar properti sebagai bentuk proses mekanisme pasar mencapai titik keseimbangan ekonomi baru.
"Perlambatan siklus properti diperkirakan akan terus berlanjut sampai dua sampai tiga tahun ke depan antara tahun 2016-2017 dan akan mulai terjadi recovery setelah itu," kata Ali.
Ali menambahkan pasar properti yang dijadikan seolah-olah instrumen bursa saham dengan aksi spekulasi jangka pendek akan kembali pada karakteristik semula sebagai investasi jangka panjang. Ia menegaskan dalam siklus manapun properti tetap menjadi investasi sepanjang masa.
(hen/rrd)











































