Survei properti residensial untuk pasar sekunder (rumah bekas) oleh Bank Indonesia (BI) menunjukkan beberapa wilayah khususnya Jakarta Selatan (Jaksel) mengalami kenaikan tertinggi pada triwulan III-2013.
Survei BI yang dikutip Jumat (8/11/2013), secara triwulanan (qtoq) kenaikan harga tanah di Jakarta mengalami kenaikan sebesar 4,34% lebih tinggi dari kenaikan harga properti dan kenaikan harga tanah di triwulan II-2013 yang hanya 4,15%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Isu pengembangan MRT (Mass Rapid Transit) di area Lebak Bulus menjadi salah satu pendorong naiknya harga lahan yang cukup signifikan di wilayah Jaksel," jelas survei tersebut.
Sedangkan secara tahunan atau Year on Year (YoY) harga tanah di Jakarta Selatan termasuk yang tertinggi yaitu naik mencapai 19,5%, masih di bawah kenaikan harga tanah di Jakarta Pusat hingga 20,14%.
"Secara tahunan harga tanah di Jakarta melambat, rata-rata harga tanah mengalami peningkatan sebesar 19,01% lebih rendah dari triwulan sebelumnya 20,17%," jelas BI.
Berdasarkan data BI harga rata-rata tanah di Jakarta Selatan khususnya untuk tipe rumah menengah pada triwulan I-2013 hanya Rp 7,5 juta/meter, kemudian pada triwulan II naik menadi Rp 7,8 juta/meter lalu pada triwulan berikutnya menjadi Rp 8,1 juta/meter.
Sedangkan untuk harga rata-rata tanah di rumah segmen atas pada triwulan I-2013 mencapai Rp 9,5 juta/meter, triwulan II-2013 naik menjadi Rp 9,9 juta/meter dan triwulan berikutnya Rp 10,3 juta/meter.
Selain tanah, BI juga mensurvei kenaikan harga rumah di pasar sekunder (rumah bekas) di Jakarta. Harga rumah bekas di Jakarta pada triwulan III-2013 meningkat 4,12% secara triwulanan (qtoq) atau lebih tinggi dari triwulan II -2013 yang hanya 3,63%.
"Banyaknya rumah sekunder yang mengalami pembangunan/renovasi sebagian atau keseluruhan memicu kenaikan harga properti triwulan III," jelas BI.
Secara triwulanan peningkatan harga rumah bekas tertinggi di Kebayoran Lama sebesar 4,81% (qtoq) dan Kedoya-Kebon Jeruk sebesar 4,74%. Khusus untuk rumah segmen menengah kenaikan harga tertinggi terjadi di Citra Garden sebesar 4,97% dan Kecamatan Ciganjur 4,95% (qtoq).
"Sedangkan secara wilayah peningkatan harga rumah tertinggi terjadi di Jakarta Barat sebesar 4,27% (qtoq) untuk segmen menengah 4,52% maupun atas sebesar 4,16% (qtoq)," jelas BI.
Namun secara tahunan atau year on year (YoY) harga rumah bekas di Jakarta naik 16,92% atau melambat dibandingkan triwulan II-2013 sebesar 17,45% (YoY).
"Kenaikan harga paling tinggi terjadi di Jakarta Pusat 18,13%, terutama pada rumah tipe atas 18,19%. Wilayah Jakarta Barat mengalami kenaikan harga terendah hanya 15,7%," jelas BI.
Survei properti residensial untuk pasar sekunder oleh BI dilakukan sejak triwulan I-2011 terhadap responden di lima wilayah Jakarta antaralain Jakarta Barat (Kebon Jeruk, Tanjung Duren, Citra Garden), Jakarta Timur (Menteng Metropolitan, Pulo Mas dan Jatinegara Baru), Jakarta Selatan (Pondok Indah, Cilandak/Pasar Minggu dan Tebet), Jakarta Utara (Kelapa Gading, Sunter dan Pluit), dan Jakarta Pusat (Menteng, Cempaka Putih dan Kemayoran).
Dalam survei ini untuk kategori rumah menengah adalah rumah dengan luas bangunan 80-150 m2, rumah besar dengan luas di atas 150 m2.
(hen/dru)











































