Bagaimana sebenarnya kondisi pasar properti di Indonesia versi BI?
"Pertumbuhan daripada properti sudah lebih tinggi dari total kredit perbankan secara agregat. Lebih cepat," kata Asisten Gubernur Bank Indonesia Mulya Siregar saat ditemui di sela seminar OJK bertajuk International Financial Literacy, di Hotel Grand Nikko, Selasa (3/12/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sehingga rakyat kecil makin tak bisa menjangkau harga rumah atau hunian yang terus naik. Oleh sebab itu, BI telah mengeluarkan kebijakan untuk mengerem kredit maupun pembiayaan khusus di sektor properti.
"Dengan menaikkan suku bunga itu mau tak mau mengerem permintaan. Itu mengatur lebih lanjut juga dengan membatasi KPR inden dan mengatur LTV (loan to value)," katanya.
"Semua orang kaya itu yang beli properti pakai KPR dengan luas rumah di atas 70 m2. Maka dengan aturan-aturan ini akan merangsang orang tidak fokus ke 70 m2 tapi ke bawah," imbuhnya.
Mulya mengatakan sampai saat ini industri properti dinilai masih aman karena aturan-aturan BI tersebut.
"Masih aman properti, belum bubble. Tapi kalau didiamkan begitu terus yakni pertumbuhan lebih cepat dan harga itu lebih tinggi dari GDP per kapita maka bisa bubble," tuturnya.
Dijelaskan Mulya, bubble bisa terjadi jika pertumbuhan harga tidak sesuai dengan pertumbuhan biaya produksinya. "Itu iklan nggak bener, masa setiap minggu bilang harga akan naik, itu kaya gitu bikin repot," tegas Mulya.
(dru/hen)











































