Menurut pemasaran agen properti Casaterra Property, Ivan mengatakan properti di kawasan ini umumnya dipegang oleh para investor yang memiliki kemampuan modal yang kuat. Mereka tak mau menjual propertinya seperti ruko dan memilih menyewakannya ke para pebisnis. Sedangkan permintaan di kawasan ini masih tetap tinggi.
"Mereka tahan karena di sini jarang orang mau jual. Mending dikontrakan daripada dijual. Turun nggak bisa karena yang mau dijual juga sedikit. Orang pada tahan semua, jarang ada orang yang mau jual kalau nggak karena kepepet," kata Ivan di Jalan Boulevard Kelapa Gading kepada detikFinance, Minggu (26/1/2014)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada yang nunggu Pemilu juga siapa tahu nanti habis Pemilu naik lagi harganya," katanya.
Selain itu, faktor lainnya adalah wilayah Kelapa Gading sudah dianggap sebagai kawasan kota mandiri. Bagi penghuni atau pemilik usaha di kawasan ini mendapat berbagai fasilitas lengkap yang belum tentu ada di daerah lain.
"Keunggulan ada mal, Kelapa Gading saja ada 5 mal di sini. Selain itu ada bank, showroom mobil, toko, furniture, restoran juga banyak. Langsung ke mal. Jadi udah lengkap banget di sini. Itu yang membuat Kelapa Gading ramai terus," katanya.
Hal senada disampaikan oleh Sumiyati, pemilik Soto Mie Karang Anyar di Jalan Boulevard Raya Kelapa Gading. Menurutnya, ia sudah 20 tahun berjualan dan memiliki ruko di kawasan ini.
"Dulu beli dari tahun 1988, waktu itu harganya masih Rp 80 jutaan waktu itu saya masih kredit. Kalau sekarang harganya sekarang berapa paling Rp 10 miliar," katanya.
Sumiyati mengungkapkan tempat usahanya saat ini sudah sangat nyaman baginya meski setiap tahun harus kebanjiran. Ia termasuk yang beruntung, karena banjir hanya masuk di kawasan parkiran ruko miliknya tak sampai ke dalam ruko.
"Udah dari sini dulu jadi mau pindah udah malas, susah juga nyari ruko. Selain itu di sini tempatnya juga lumayan strategis jadi ramai. Jadi lumayan enak kalau buat buka usaha di sini," katanya.
(hen/hen)











































