Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengeluarkan daftar baru nilai jual objek pajak (NJOP) di seluruh wilayah ibu kota naik. Di wilayah elit Pondok Indah, Jakarta Selatan, NJOP pun makin tinggi.
Dari data Dinas Pajak Pemprov DKI yang diterima detikFinance, Rabu (12/3/2014), di Pondok Indah, Kelurahan Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, NJOP naik sangat tinggi.
Sebut saja Jalan Gedung Hijau yang dihuni oleh rumah-rumah elit Jakarta, NJOP naik dari Rp 8 juta/m2 menjadi Rp 15 juta/m2, atau naik hampir 100%. Bahkan menurut informasi penghuni di sana, harga pasaran properti di wilayah tersebut langsung melonjak dari kisaran Rp 20 juta/m2 menjadi Rp 45 juta/m2.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di wilayah elit Pondok Indah, ada yang NJOP-nya naik hingga 200% lebih. Contoh saja wilayah Kencana Permai, Pondok Indah yang NJOP-nya naik dari sebelumnya Rp 8 juta/m2 menjadi Rp 28,8 juta/m2.
Apartemen di wilayah Pondok Indah juga naik tinggi. Dari daftar tersebut, NJOP apartemen Nuansa Hijau di wilayah elit tersebut naik dari Rp 8 juta/m2 menjadi Rp 28 juta/m2. Sementara NJOP di Apartemen Bukit Golf Pondok Indah naik dari Rp 11 juta/m2 menjadi Rp 19 juta/m2.
Sebelumnya, salah satu agen properti di kawasan Pondok Indah bernama Edi Harjono mengungkap, penyebab tren kenaikan harga rumah di Pondok Indah yang terus meningkat. Menurutnya, kenaikan harga rumah di Pondok Indah adalah karena ulah spekulan.
"Ada salah satu investor dia main. Riilnya dia harus buka (harga) untuk rumah itu Rp 5,5 miliar. Dia buka Rp 6,5 miliar," kata Edi saat ditemui detikFinance di kantornya Pondok Indah, Jakarta Selatan.
Edi mengatakan, spekulan tersebut merusak harga pasaran. Di sisi lain, banyak konsumen yang tidak berpikir panjang untuk mengeluarkan kocek sebesar itu, asalkan punya rumah mewah di kawasan elit.
"Pembeli ini kadang-kadang gila, edan juga. Saat dia ingin tinggal di Pondok Indah, yang dari luar kota tidak tahu pasaran Jakarta dia keliling nyari nggak ketemu. Yang Rp 6,5 miliar ini dinego. Rp 6,4 miliar, Rp 6,5 miliar ini disikat juga," terangnya.
Ini menimbulkan gejolak harga di kawasan tersebut, juga kawasan lain di sekitarnya, yang mana menurut Edi ikut-ikutan menaikkan harga rumahnya, agar tidak beda jauh.
"Yang menimbulkan yang lain jadi ngikutin. Dia saja Rp 6,5 miliar laku. Timbulnya itu bukan karena rencana kenaikan itu. Coba-coba dia laku. Dia jadi seragam semua. Praktiknya di Pondok Indah kayak gitu. Ini aneh, beda dengan Bintaro. Karena di sini (Pondok Indah) banyak yang dicari. Yang dijual kan sedikit," tutupnya. (dnl/hen)











































