"Nggak ada kecenderungan naik penawaran, permintaan juga tetap sama, sama biasa saja, cuma penjualan (broker) yang nihil," kata Marketing agen sebuah broker properti di Pondok Indah Denny Amiruddin kepada detikFinance, Rabu (12/3/2014)
Menurut Denny, kenaikan NJOP dan harga pasar belum memberikan rangsangan bagi para pemilik properti untuk melepas propertinya. Padahal pemilik rumah di kawasan Pondok Indah umumnya menjual rumah bukan karena kebutuhan, namun lebih pada pertimbangan investasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Denny mengatakan, selain faktor NJOP, kenaikan harga pasar Pondok Indah juga dipengaruhi permintaan dan penawaran. Namun penawaran yang disodorkan oleh penjual saat ini makin tak masuk akal. Kalau sudah begini, biasanya broker merayu penjual untuk menurunkan harga penawarannya.
"Kalau suplai masih banyak, tapi harga nggak jelas, owner yang jual itu agak aneh-aneh, kemahalan. Efeknya mereka susah jual. Kalau dari sisi calon pembeli rata-rata protes karena harganya ketinggian, biasanya mereka langsung mundur," katanya.
Di beberapa lokasi tertentu, NJOP di Pondok Indah sudah naik dari Rp 6 juta jadi Rp 15 juta per meter persegi. Namun harga pasarannya sudah naik dari Rp 20 juta per meter persegi, jadi Rp 40-45 juta per meter persegi.
(hen/dnl)











































