Hal itu diungkapkan oleh Direktur Utama Bank BTN Maryono, di sela-sela acara peluncuran Lembaga Riset Mandiri Institute di Hotel Four Seasons, Jalan Rasuna Said, Jakarta, Senin (12/5/2014).
"Rumah yang sudah macet dan tak bisa dicicil lagi akan dilelang, jadi tak memisahkan tipe," tegas Maryono.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Akan terus dilakukan (pelelangan). Saya belum bisa hitung nilainya. Mungkin Rp 400-500 miliar," tambah Maryono.
Pelelangan yang dilakukan, lanjut Maryono, adalah upaya untuk menurunkan rasio kredit macet atau yang juga disebut non performing loan (NPL). Saat ini, rasio NPL BTN mencapai 3% dan akan diturunkan menjadi 2,6%.
Selain itu, terkait pengucuran kredit untuk rumah subsidi dengan skema pembiayaan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), Maryono mengatakan, BTN akan menyesuaikan bisnis intinya, apapun kebijakan yang diambil pemerintah. Saat ini BTN masih merajai kredit untuk rumah bersubsidi.
"Selama ini apapun yang jadi program pemerintah bisa kita salurkan rata-rata 97%. Apapun program pemerintah, BTN akan menyesuaikan," tutupnya.
(zul/hen)











































