Menurut Direktur Eksekutif Institute For Development of Economics and Finance (INDEF) Ahmad Erani Yustika kondisi kepemilikan lahan sekarang ini mengarah ke praktik oligopoli yakni kepemilikan bidang-bidang lahan hanya oleh segelintir pihak.
"Pemerintah harus mengatur serius ini. Karena fungsi lahan sebagai fungsi sosial harus dikembalikan," kata Erani saat dihubungi detikFinance, Selasa (13/5/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, praktik oligopoli ini bisa mengarah kepada pengaturan harga secara sepihak. Buktinya, harga properti di Jakarta naiknya sangat tinggi, jauh lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan pendapatan warga Indonesia.
"Kenaikan (harga) properti ini kan tiap tahun tinggi sekali, jauh lebih tinggi dari kenaikan pendapatan orang-orang. Ini kan jadi makin sulit untuk memiliki lahan," jelasnya.
Erani tidak menyebut secara detil perusahaan-perusahaan mana saja yang menguasai lahan dalam jumlah banyak tersebut. Namun ia memberi bocoran, rata-rata para perusahaan itu menguasai lahan di Jakarta dan sekitarnya dalam jumlah besar.
"Fungsi sosialnya menghilang. Dikuasai kepentingan ekonomi semata," terang dia.
Sebelumnya, beberapa perusahaan properti yan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengaku punya banyak cadangan tanah (land bank) yang cukup besar. Lahan-lahan ini siap dikembangkan menjadi aneka bentuk properti, seperti rumah dan mal.
(ang/hen)











































