Permintaan Turun, Harga Rumah Segmen Atas di 4 Kota Ini Tetap Naik

Permintaan Turun, Harga Rumah Segmen Atas di 4 Kota Ini Tetap Naik

- detikFinance
Senin, 19 Mei 2014 14:35 WIB
Permintaan Turun, Harga Rumah Segmen Atas di 4 Kota Ini Tetap Naik
Surabaya - Harga properti Residensial atau hunian di 4 kota di Jawa Timur (Jatim) pada triwulan I-2014 mengalami kenaikan harga rata-rata 4,26% dibandingkan triwulan sebelumnya. Padahal secara permintaan, terjadi penurunan permintaan untuk beberapa segmen.

Kenaikan harga dipengaruhi harga bahan bangunan, kenaikan upah kerja dan tingginya biaya perizinan. Keempat kota itu antara lain Surabaya, Gresik, Sidoarjo, dan Mojokerto.

Menurut Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Wilayah IV Jawa Timur Dwi Pranoto, berdasarkan tipe, kenaikan harga tertinggi terjadi pada rumah tipe besar (5,8%), disusul oleh tipe menengah (5,2%) dan tipe kecil (1,4%).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kenaikan ini berdasarkan Survei Harga Properti Residensial (SHPR) dan responden juga menyatakan upaya pengembang untuk memberikan penambahan fasilitas umum yang memadai juga menjadi alasan kenaikan harga yang ditawarkan," kata Dwi dalam rilis yang diterima detikFinance, Senin (19/5/2014).

BI juga mencatat penurunan volume permintaan pembelian properti residensial untuk rumah tipe menengah dan tipe besar yang masing-masing turun 7,3% dan 13,8%. "Sebaliknya, penjualan rumah untuk tipe kecil justru meningkat hingga 15,4% dibandingkan triwulan IV-2013," imbuhnya.

Selain beberapa faktor, turunnya permintaan rumah tipe menengah dan besar juga disebabkan naiknya suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) sejak triwulan I-2013 mulai meningkat, menyesuaikan kenaikan suku bunga acuan.

"Besaran suku bunga diyakini menjadi salah satu pertimbangan konsumen, mengingat sumber pembiayaan pembelian rumah saat ini lebih banyak didominasi oleh KPR," ungkap Dwi.

Berdasarkan survei, penggunaan KPR untuk pembelian rumah tipe besar mencapai 57,1%, tipe kecil 56,9%, dan tipe menengah sebesar 52,4%.

Sementara data Bank Indonesia menunjukkan rata-rata bunga KPR pada triwulan I-2014 sebesar 11%, meningkat dibandingkan 1% dibandingkan triwulan IV 2013.

Dwi menambahkan, penurunan permintaan rumah juga diyakini dipengaruhi tingginya uang muka sebagai implikasi dari penerapan kebijakan Loan to Value (LTV) yang bertujuan untuk meningkatkan aspek kehati-hatian perbankan dalam penyaluran KPR. "Kombinasi keduanya mendorong tertahannya permintaan pembelian rumah di Jatim," ujarnya.

Hal ini kata Dwi, terpantau dengan melambatnya angka pertumbuhan kredit properti yang disalurkan oleh Bank Umum di Jawa Timur pada triwulan I 2014 (26,36%) dibandingkan dengan triwulan IV 2013 (32,06%). Meski terjadi perlambatan, Dwi menilai masih dalam kisaran yang kondusif bagi perekonomian di Jatim.

"Perlambatan ini memang diarahkan untuk menjaga pertumbuhan kredit properti yang pada periode-periode sebelumnya cenderung tumbuh terlalu tinggi serta menghindari risiko kredit yang berpotensi mengganggu stabilitas sistem keuangan secara umum," ungkapnya.

Kenaikan harga properti akan berlanjut pada triwulan II 2014 yang terlihat dari perkiraan kenaikan sebesar 3,3% dibandingkan Triwulan I-2014. Perkiraan kenaikan harga tertinggi terjadi pada rumah tipe kecil (4,93%), disusul oleh tipe besar (4,61%) dan tipe menengah (0,46%). Apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya, diprediksi naik hingga 17,5%.

"Kenaikan harga disumbang oleh rumah tipe kecil (18,2%), tipe menengah (18,6%) dan tipe besar (15,7%)," pungkas Dwi.

Berdasarkan BI segmen perumahan tapak (landed house) terbagi menjadi 3, yaitu Tipe rumah kecil hingga berukuran 36 m2, tipe rumah menengah dari 36 m2 hingga 70 m2 sedangkan rumah tipe besar di atas 70 m2.

(ze/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads