Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda dalam situs resminya, Kamis (19/6/2014)
Ali mengatakan perlambatan signifikan terjadi di Jabodetabek menyusul kenaikan harga properti yang tidak terlalu tinggi lagi secara rata-rata hanya berkisar antara 15%-20% sedangkan penjualan merosot sampai rata-rata 49%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya pasar properti di luar Jabodetabek termasuk luar Jawa diperkirakan akan mulai bergerak tahun ini setelah pasaran properti Jabodetabek ditengarai telah over value (naik tajam) di beberapa titik secara umum.
Ia memperkirakan potensi perkembangan diperkirakan akan mengarah ke wilayah Sumatera meliputi Medan, Riau dan Lampung, sebagian Kalimantan, Jawa Tengah, dan Manado. Sedangkan perkembangan pesat diperkirakan akan terjadi di Cikarang, Karawang, Malang, Surabaya, Makassar, Lampung, dan Balikpapan.
"Perkiraan ini didasarkan atas peningkatan harga tanah hasil survei Indonesia Property Watch disertai dengan aktivitas pembangunan yang akan dan sedang dimulai di beberapa wilayah tersebut," katanya.
Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) pada akhir 2013 dan awal 2014, harga properti di Surabaya, Manado dan Makassar mengalami kenaikan paling tinggi. Bahkan pada tiga bulan pertama 2014, harga rumah di Makassar naik yang paling tinggi.
Menurut Ali, Jabodetabek masih menjadi patokan pasar properti secara nasional yang kemudian akan terjadi peningkatan pasar properti di wilayah lain di luar Jabodetabek.
(hen/hds)











































