Head of Research Jones Lang LaSalle Indonesia Anton Sitorus mengatakan, seperti yang diperkirakan pada periode sebelumnya, kondisi pasar properti di Jakarta secara keseluruhan masih menunjukkan gejala perlambatan sebagai pengaruh dari pertumbuhan ekonomi yang juga melambat.
Selain itu, imbas dari menurunnya sentimen bisnis di sebagian kalangan yang merupakan langkah antisipasi selama tahun penyelenggaraan pemilu ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menyebutkan, untuk ruang sewa perkantoran di wilayah CBD misalnya. Di kuartal II-2014 penyerapannya hanya di angka 21.500 meter persegi, jauh lebih rendah dari periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai sekitar 100.000 meter persegi.
Untuk ruang sewa perkantoran di luar CBD juga penyerapannya melambat. Kuartal II-2014 hanya menyerap 19.600 meter persegi, atau lebih rendah dari periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai sekitar 38.000 meter persegi.
Di tempat yang sama, Regional Director Head of Markets Jones Lang LaSalle Indonesia Angela Wibawa mengatakan, pasar cenderung masih menunggu kepastian hasil Pilpres pada 9 Juli 2014 mendatang.
"Tahun ini akan slowdown ke depan baru akan naik. Tahun ini masih adaptasi, demand (permintaan) masih ada, tapi mereka masih hati-hati bukan berarti nggak ada aktivitas (demand)," kata Angela.
Namun begitu, Angela berharap, sektor properti akan kembali mengalami peningkatan signifikan setelah presiden baru terpilih. Dia mengungkapkan, presiden terpilih nanti diharapkan mampu memberikan kebijakan yang mendukung sektor properti lebih berkembang.
"Siapa pun presidennya mudah-mudahan aman. Investor asing lebih ke arah ada stabilitas di government jadi akan memberikan sesuatu yang positif dan transparansi. Kalau kita lihat dampaknya lebih ke arah kalau government stabil sektor properti lebih banyak demand-nya, kalau asing masuk, demand properti akan banyak jadi semua aman dan nyaman secara dasar," tandasnya.
(drk/dnl)











































