Crown International Holdings Group, salah satu perusahaan pengembang properti terbesar di Sydney, Australia membukukan angka penjualan properti sebesar US$350 juta (Rp 3,5 triliun) selama periode Juni 2013-Juni 2014.
Crown Group Country Director of Indonesia Michael Ginarto mengatakan, pertumbuhan properti di Sydney, Australia dari tahun ke tahun terus mengalami pertumbuhan, ini sejalan dengan angka penjualan properti yang juga terus naik.
"Nilai transaksi dari 2013-2014 dari pembeli Indonesia saja US$55 juta. Secara global, total sales revenue mencapai US$ 300-350 juta," kata Michael saat acara buka puasa bersama di Mad For Garlic Resto, Grand Indonesia, Jakarta, Senin (21/7/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Setiap tahun kenaikannya antara 20%-30%, yakin tahun ini bisa naik 30%," ucap dia.
Michael menyebutkan, selama 18 tahun beroperasi, Crown Group telah menjual sedikitnya 5.780 unit properti. Dalam setahun terakhir, properti yang paling banyak diminati masyarakat baik domestik maupun luar negeri yaitu Skye by Crown dan Viva by Crown.
"Total apartemen kita yang terjual di Sydney dalam 18 tahun 5.780 unit, ini residential apartemen. Mayoritas yang paling banyak dicari dalam setahun terakhir Skye by Crown letaknya di North Sydney dan Viva by Crown, terus V Parramatta by Crown letaknya di Parramatta, Sydney," jelas dia.
Tak hanya pertumbuhan properti, harga jual rata-rata properti di Sydney juga terus naik setiap tahunnya minimal sekitar 5%-10%.
"Harga tanah di Sydney rata-rata US$10 ribu per meter persegi. Harga rata-rata per tahun naik 5-10% dari harga perdana. Ini masih lebih rendah dari Singapura yang sudah Rp300-400 juta per meter," ujar dia.
Permintaan yang terus naik ini salah satunya dipengaruhi karena kemudahan dalam membeli properti. Di Sydney misalnya, untuk bisa membeli properti bisa hanya mengeluarkan uang muka atau Down Payment (DP) sebesar 10%, berbeda dengan Indonesia yang harus menyiapkan dana awal hingga 30%.
"Cara bayar mau beli properti di Sydney mudah misal harga Rp 5 miliar, tidak harus bayar 30% DP-nya, kalau di sana DP 10%, selama masa pembangunan nggak keluarin dana lagi, pas gedung sudah jadi baru bayar 10-20%, 70-80% dicover bank. Sistem pinjam bank di sana mudah," pungkasnya.
(drk/hen)











































