Aji yang merupakan karyawan swasta, sudah mempunyai 2 anak dari hasil pernikahannya tahun 2000 lalu. Baginya mendapatkan sebuah rumah seperti mendapatkan jodoh, tergantung nasib dan rejeki.
Penghasilannya dan istrinya per bulan mencapai Rp 5,5 juta. Pada 2003 ada yang menjual rumah yang lokasinya di kampung bukan di daerah perumahan seharga Rp 55 juta.
"Karena uang tabungan dan tambahan pinjaman uang dari saudara hanya ada Rp 30 juta maka saya nego lagi," katanya dalam surat elektroniknya, Jumat (5/9/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Setelah 2 tahun lunas, ternyata rumah sudah harus direnovasi. Maklum waktu saya beli, kondisi rumah kurang bagus karena bahan material yang jelek, maklum rumah kampung," katanya.
Untuk mendanai biaya renovasi, Aji terpaksa cari pinjaman uang lagi dan untuk menambah pembayaran dana cicilan pinjaman. Dana itu juga dipakai sebagian untuk membangun kos-kosan untuk karyawan di sisa tanah yang belum terbangun.
"Saran saya buat teman-teman lain yang ingin punya rumah. Harus bisa hidup sederhana, mengurangi pengeluaran untuk yang tidak penting, bisa memisahkan mana kebutuhan dan keinginan dan selalu menabung dan berdoa," katanya.
Bagi Anda yang punya pengalaman soal sulitnya mendapatkan rumah. Atau punya pengalaman berkali-kali mengajukan KPR tapi ditolak oleh bank karena persoalan gaji. Bahkan bagi Anda yang sudah berhasil dapat rumah namun harus bersusah payah cari pinjaman. Bisa kirim ceritanya ke redaksi@detikfinance.com.
(hen/hds)











































