Lagi-lagi cerita datang dari para calon pembeli rumah yang kini masih sulit mendapatkan persetujuan Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Padahal mereka punya penghasilan cukup besar untuk rata-rata pekerja di Indonesia.
Hal ini dialami oleh pembaca detikFinance berinisial 'SC'. Ia mengalami kesulitan mengajukan KPR di Indonesia karena kerja di luar negeri. Ia bekerja di bidang jasa selama 6 tahun di Sydney, Australia.
Padahal 'SC' mampu menabung Rp 20 juta per bulan. Namun karena persyaratan yang rumit dari bank, menyebabkan rumah dia belum mendapatkan rumah idaman.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menuturkan, selama ini bank yang menolak KPR-nya beralasan, pekerjaannya tidak pasti, karena sewaktu waktu bisa berhenti. Padahal SC sudah menyiapkan uang muka 30%, bahkan juga siap menjaminkan apartemen miliknya untuk mengajukan KPR.
"Mudah-mudahan pihak bank bisa memberi solusi cara mendapatkan kredit rumah bagi pekerja di luar negeri," katanya.
Cerita yang kurang lebih mirip dialami oleh 'A', ia merupakan lulusan sekolah pelayaran di Jakarta yang berijazah ANT III deck. Senasib dengan rekan-rekannya sesama pelaut, 'A' juga mengalami kesulitan saat akan kredit rumah atau mobil.
"Padahal untuk ijazah seperti saya minimal gajinya Rp 20 juta-50 juta, tergantung perusahaan mana dan negara mana kami bekerja," katanya.
Ia berharap, perbankan di dalam negeri bisa memperhatikan para pekerja seperti dirinya, yang punya kemampuan keuangan, tapi terbentur dengan persoalan persyaratan.
"Kalau memang takut tak terbayar seterusnya, kan bisa ditarik rumahnya layaknya kredit barang lain, tapi saya berani garansi bahwa pelaut tak akan berpikir KPR kalau tidak mampu bayar," katanya.
Bagi Anda yang punya pengalaman soal sulitnya mendapatkan rumah karena gaji yang rendah. Atau tetap sulit dapat KPR meski sudah berpenghasilan tinggi, bisa kirim ceritanya ke redaksi@detikfinance.com.
(hen/hds)











































