Kaget, itulah yang dirasakan oleh 'AS' seorang pelaut asal Indonesia yang bekerja di perusahaan Singapura. Meski bergaji Rp 120 juta per bulan, tak membuat bank mau meloloskan pengajuan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dirinya.
AS lulus akademi pelayaran pada tahun 2010, lalu mulai bekerja sebagai pelaut dengan jabatan perwira mesin di perusahaan Belanda. Gaji pertamanya sekitar 3.000 Euro atau sekitar Rp 45 juta per bulan.
Meski baru bekerja beberapa bulan, ia percaya diri mengincar sebuah rumah seharga Rp 400 juta di Yogyakarta. Ia percaya diri karena sudah mengantongi Rp 150 juta. Namun sayang, syarat pengajuan KPR harus pekerja dengan usia kerja minimal 2 tahun, sedangkan masa kerjanya hanya baru 5 bulan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah gagal, tak membuat AS putus asa, beberapa tahun sesudah kegagalan itu AS pindah kerja di perusahaan asing di Singapura dengan kontrak 40 hari on/off duty dengan gaji sekitar Rp 120 juta/bulan.
Dengan modal pengalaman kerja sudah 5 tahun, berusia 26 tahun dan penghasilan yang sangat mapan, ia penuh percaya diri datang ke bank untuk mengajukan KPR. Waktu itu rumah yang diincarnya seharga Rp 600 juta di Yogyakarta dengan DP 30%.
"Namun alangkah kagetnya saya ketika pihak bank menolak KPR yang saya ajukan. Dengan alasan bank masih ragu karena mungkin saja kontrak dan slip gaji saya fiktif," kata AS.
Lagi-lagi AS harus gigit jari yang kedua kalinya saat mengajukan KPR, namun ia tetap mencari jalan keluar. Singkat cerita, ia mengajukan kredit lagi dengan syarat plafon kredit hanya 40% atau sekitar Rp 200 juta. Artinya AS harus menyediakan 60% sebagai DP atau sebesar Rp 400 juta.
"Itu pun dengan pengajuan atas nama istri saya yang berprofesi sebagai dokter swasta," katanya.
Ia bingung mengapa bank tidak mempercayai para pelaut untuk sebagai nasabah KPR. Padahal menurutnya pelaut lokal sangat dipercaya oleh orang asing untuk menjalankan perniagaannya yang bernilai ratusan juta dolar.
"Seharusnya bank bisa melakukan pengecekan pada buku tabungan, paspor dan buku pelaut yang dicocokkan dengan kontrak yang telah dikonfirmasi perusahaan yang kami miliki. Dari pencocokan dokumen-dokumen tersebut dapat dilihat jelas riwayat pekerjaan dan besaran penghasilan," katanya.
Β
Bagi Anda yang punya pengalaman soal sulitnya mendapatkan rumah karena gaji yang rendah. Atau tetap sulit dapat KPR meski sudah berpenghasilan tinggi, bisa kirim ceritanya ke redaksi@detikfinance.com.
(hen/hds)










































