Hal ini disampaikan oleh pakar properti Panangian Simanungkalit dalam keterangannya, Jumat (12/9/2014).
Ia mengatakan peran pemerintah masih sangat minim dalam penyediaan hunian. Jumlah rumah tapak yang dibangun pemerintah tersebut masih sangat jauh dibandingkan dengan yang dibangun oleh pengembang swasta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, hal yang sama juga berlaku pada pembangunan hunian vertikal atau rusun bersubsidi yang dilakukan oleh Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera).
"Dari rencana pembangunan 1.000 tower Rusunami dengan total 500.000 unit, paling-paling yang terbangun hanya sekitar 10% saja dari target, atau 50.626 unit," paparnya.
Sangat jauh apabila dibandingkan dengan pembangunan apartemen mewah yang dilakukan pengembang. Pengembang properti gencar membangun hunian vertikal untuk masyarakat menegah atas.
"Selama 10 tahun terakhir ini, tidak kurang dari 80.000 unit apartemen yang dibangun oleh para pengembang," tambahnya.
Panangian juga menanggapi soal banyaknya rusunami yang kini malah dinikmati orang berduit. Alhasil, apartemen itu hanya jadi alat investasi. Padahal seharusnya, rusunami yang disubsidi pemerintah itu dikhususkan untuk tempat tinggal MBR.
"Kenyataannya, sebagian besar kepemilikan rusunami justru dikuasai oleh mereka yang telah mempunyai tempat tinggal dan berpenghasilan di atas Rp 5,5 juta/bulan. Sehingga sebagian besar dari pemilik rusunami itu menjadikan rusunami sebagai investasi," tuturnya.
(zul/hen)











































