Hotel di Bali 'Perang' Harga, Tarif Kamar Bisa Turun 50%

Hotel di Bali 'Perang' Harga, Tarif Kamar Bisa Turun 50%

- detikFinance
Minggu, 14 Sep 2014 17:15 WIB
Hotel di Bali Perang Harga, Tarif Kamar Bisa Turun 50%
ilustrasi
Jakarta - Jumlah hotel yang menjamur di Bali menimbulkan persaingan harga yang tidak sehat di kalangan pengusaha hotel. Ada beberapa hotel di Bali yang rela menurunkan tarif kamar hotelnya hingga 50%.

Kondisi dari persaingan ini tidak terlihat secara nyata oleh konsumen. Pihak hotel biasanya menggandeng pihak lain, seperti perusahaan penerbangan atau jasa travel untuk memberi harga lebih murah.

"Disebutnya benefit, dengan naik pesawat tertentu bisa dapat harga murah. Dari Rp 500.000 satu malam, bisa jadi dua malam," ungkap Sekretaris Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali Perry Markus kepada detikFinance, Minggu (14/9/2014)

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya secara otomatis, harga pasar untuk kamar hotel di Bali menjadi rusak. Banyak hotel yang kemudian ikut menjatuhkan harga menjadi lebih rendah untuk menjangkau konsumen. Langkah ini biasanya dilakukan ketika bukan saat musim puncak liburan, seperti liburan sekolah, lebaran, dan akhir tahun.

"Mau gimana lagi, sudah merusak harga pasar. Dari yang biasanya misalnya Rp 100.000 menjadi Rp 50.000," sebutnya.

Menurutnya pihak pengelola hotel bisa rugi jika kondisi ini terus berlanjut. Apalagi pengusaha hotel menanggung kenaikan tarif listrik, gas elpiji dan buruh. Sehingga margin yang diterima pemilik hotel semakin kecil.

"Kan margin makin kecil, investasi ini nantinya tidak akan menguntungkan," jelas Perry.

Perry menuturkan untuk mengatasi masalah 'perang' harga ini, memang cukup sulit. Hal ini karena biasanya hotel tidak melakukan secara terang-terangan di tarif hotel.

"Memang tidak akan bilang begitu, tapi kalau harganya turun kan itu sudah kejadian dan terjadi sekarang. Itu sudah mulai," katanya.

Sebelumnya Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch Ali Tranghanda mengatakan kenaikan harga tanah di Bali yang sangat tinggi berbanding terbalik dengan tingkat hunian hotel di Bali yang mengalami kemerosotan menjadi rata-rata 60-an persen.

"Hal ini membuat para pemilik hotel mulai melakukan perang tarif. Room rate yang tadinya Rp 600.000 per malam telah terkoreksi menjadi Rp 350.000 per malam," katanya.

Menurutnya, dari kondisi yang ada diperkirakan tingkat investasi hotel menjadi tidak layak untuk bertahan untuk jangka panjang. Paling tidak sebuah proyek hotel masih bisa bertahap dengan tingkat hunian 60% dengan asumsi harga pasaran masih wajar sesuai kelasnya.

"Untuk konsumen memang menjadi diuntungkan, namun secara investasi hal ini menjadi tidak sehat bagi industri perhotelan nasional," katanya

(mkl/hen)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads