Indonesia Property Watch (IPW) merilis proyeksi pergerakan bisnis properti di beberapa kawasan di Tanah Air, termasuk wilayah timur yang sedang 'naik daun' yaitu Makassar dan Surabaya. Hasilnya terdapat beberapa lokasi yang perlu diwaspadai terkait dengan potensi kejenuhan pasar akibat ancaman over supply di masa mendatang.
"Pengamatan terhadap siklus pasar properti menjadi dasar analisis yang telah dibuktikan dengan market warning pada tahun 2010 mengenai perlambatan pasar properti di tahun 2014 yang nyata telah terjadi saat ini," kata Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch Ali Tranghanda dalam situs resminya, Minggu (12/10/2014)
Berikut proyeksi pergerakan bisnis properti berdasarkan wilayah:
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jakarta:
- Trade center masih jenuh.
- Apartemen mewah mulai jenuh.
- Potensi apartemen menengah office di beberapa lokasi non CBD.
Bandung:
- Hotel budget mulai memasuki tahap jenuh.
- Kondotel di beberapa lokasi masih ada potensi
Malang:
- Apartemen menengah mahasiswa masih berpotensi
Yogyakarta:
- Hotel budget mulai jenuh
Bali:
- Hotel budget relatif sudah jenuh, terjadi perang tarif.
- Vila masih berpotensi di beberapa lokasi
Makassar:
- Peluang perumahan menengah dan komersial
Surabaya:
- Apartemen dan perkantoran berpotensi bangkit
Tangerang:
- Rumah mewah memasuki tahap jenuh.
- Apartemen menengah hati-hati.
- Rumah menengah sangat berpotensi.
- Komersial sedang tumbuh.
Depok:
- Hati-hati over supply apartemen menengah.
- Rumah menengah berpotensi.
Bogor:
- Kondotel masih berpotensi.
- Perumahan menengah masih berpotensi.
Medan:
- Peluang sektor komersial.
Bekasi:
- Hati-hati over supply apartemen menengah
- Perumahan menengah masih berpotensi.
"Tidak semua lokasi mengalami perlambatan karena bberapa sektor di beberapa lokasi justru menunjukkan peningkatan menyusul perkembangan pasar properti di Jabodetabek yang relatif sudah jenuh," katanya.
IPW mencatat terjadi pergeseran dari sebuah sektor ke sektor lain karena kondisi pasar yang telah jenuh. Secara umum diperlihatkan bahwa segmen hunian landed mengalami pergeseran dari segmen atas ke segmen menengah Rp 500 juta β 1 miliar, sedangkan di sektor apartemen juga terjadi pergeseran ke segmen menengah Rp 300 β 500 juta.
"Namun fenomena latah masih mewarnai pembangunan di Indonesia. Seperti terlihat maraknya pengembangan apartemen menengah yang sangat banyak memasuki wilayah Serpong dan Bekasi. Semua mengklaim mempunyai pasar yang potensial, namun perlu kehati-hatian ketika pasokan semakin banyak sedangkan pasar tidak bertumbuh seperti yang diharapkan," katanya.
Selain itu, IPW mencatat fenomena apartemen pun telah muncul di Serpong karena harga tanah yang sudah semakin tinggi di wilayah Serpong mengakibatkan pengembang lebih memilih pengembangan hunian vertikal untuk memberikan tingkat optimalisasi lahan yang lebih baik.
"Pasokan untuk rumah mewah pun semakin terbatas karena harga sudah mencapai titik jenuh untuk dibangun rumah mewah," katanya.
IPW juga menemukan fenomena kelatahan di sektor perhotelan khususnya di Bali pun telah memasuki pasar jenuh dengan banyaknya investor yang berlomba-lomba membangun hotel di Bali. Aktifitas ini membuat harga tanah ikut terkerek naik dan semakin tinggi.
"Ternyata tidak menyurutkan investor untuk membangun hotel meskipun secara investasi dipertanyakan tingkat kelayakannya dengan harga tanah yang sudah membumbung tinggi," jelas Ali.
Sementara itu, di Indonesia bagian Timur khususnya di Makassar dan Surabaya, menunjukkan perkembangan yang cukup baik mengejar ketinggalannya setelah perkembangan properti wilayah Barat sempat melejit.
"Biasanya fenomena latah akan kembali muncul dengan banyaknya investor yang ikutan masuk ke sektor yang sama di wilayah yang sama. Waspada akan batasan limitasi pasar," serunya.











































