Properti Bekasi Tetap Jadi Pilihan Meski Kotanya Kena Bully

Properti Bekasi Tetap Jadi Pilihan Meski Kotanya Kena Bully

- detikFinance
Selasa, 14 Okt 2014 10:50 WIB
Properti Bekasi Tetap Jadi Pilihan Meski Kotanya Kena Bully
Jakarta - Belakangan ini nama Bekasi, Jawa Barat, menjadi bahan 'bully-an' di sosial media karena dianggap kawasan yang panas dan jauh untuk lokasi hunian. Terlepas dari masalah itu, kawasan Bekasi tetap menjadi pilihan berbagai kelas sosial untuk tinggal di kawasan timur Jakarta ini.

Ketua Umum DPP Asosiasi Pengembang Perumahan Dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Addy Ganefo mengatakan kawasan Bekasi terbagi menjadi dua wilayah administratif yaitu kotamadya dan kabupaten. Kotamadya lebih banyak menyediakan kawasan hunian hingga kawasan komersial, sedangkan untuk Kabupaten menjadi sentra kawasan industri.

Berikut ini serba-serbi si kota yang mayoritas penduduknya bekerja di Jakarta ini, seperti dirangkum detikFinance, Selasa (14/10/20140.

Harga Propertinya Terus Naik Tinggi

Eddy mengatakan kawasan Bekasi memang punya plus minus sebagai hunian, selain berdekatan dengan kawasan industri, wilayah ini juga tak luput dari masalah banjir. Namun ketersediaan lahan yang masih cukup luas dan relatif dekat dengan Jakarta dan adanya akses tol dan kereta, kawasan ini juga masih menjadi incaran pengembang maupun konsumen.

Ia menghitung, rata-rata secara umum kenaikan harga properti/tanah di Bekasi bisa mencapai 20-30% per tahun. Saat ini rata-rata harga tanah di Bekasi untuk hunian bisa mencapai Rp 1 juta hingga Rp 5 juta per meter. Namun bila dibandingkan dengan di Tangerang, harganya bisa naik 35% lebih per tahun, meski kalah jauh dibandingkan di Jakarta yang bisa mencapai 100% per tahun.

"Harga tanah di Bekasi sudah termasuk tinggi sudah di atas Rp 1 juta per meter bahkan ada yang sudah Rp 5 juta per meter, kenaikannya ikut tinggi setelah DKI Jakarta, harga tanah bisa merangkak 20-30% per tahun," kata Eddy yang memiliki beberapa proyek properti di Tangerang, Bekasi, Depok, Lebak ini kepada detikFinance, Senin (13/10/2014)

Eddy mengatakan saat ini 'bintang' properti di Jabodetabek masih di pegang oleh kawasan Jakarta dan Tangerang (BSD). Namun ia yakin ke depannya, kawasan timur Jakarta seperti Bekasi sangat prospek ke depannya.

"Apalagi nanti akan ada bandara baru di Karawang, Bekasi bakal makin menarik," katanya.

Masih Cocok untuk Investasi

Beberapa hari terakhir, pembicaraan soal panas dan macetnya Bekasi semakin hangat di media sosial. Dengan keluhan itu, masih menarikkah bisnis properti di kota ini?

"Masih menarik, karena daya beli di sana masih bagus. Mungkin hanya tinggal penyesuaiannya saja di bentuk produknya," ujar Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Real Estate Indonesia (REI) DKI Jakarta Amran Nukman dalam diskusi dalam diskusi di The Bridge Hotel Aston Rasuna, Jakarta, Senin (13/10/2014).

Sementara, menanggapi gencarnya bully melalui media sosial yang ditujukan untuk kota Bekasi, ia mengatakan bahwa hal itu tidak sampai berimbas pada penjulan properti di kawasan tersebut.

"Ya, sekarang di sekitar Jakarta mana sih yang nggak panas dan macet. Nggak terlalu (berpengaruh) lah ya. Itu di medsos "mema-meme" itu kan biasanya sebentar doang. Nanti juga hilang sendiri. Tapi kalau ke sampai penjualan nggak lah," tandasnya.

Ia menyebut, masih menariknya bisnis properti di kawasan bekasi lantaran masih tingginya daya beli masyarakat ditambah masih tingginya kebutuhan masyarakat akan hunian yang layak.

Plus-Minus Properti Bekasi

"Bekasi masih menjadi lokasi yang ideal untuk properti. Bekasi mempunyai kawasan industri yang berpengaruh terhadap perumahan bisa bertumbuh. Kawasan industri menarik investasi dan membutuhkan tenaga kerja. Tren membuat kawasan industri dalam kota ini gunanya untuk mempermudah kegiatan ekonomi dan menajemennya menjadi lebih irit," kata Associate Director Research Colliers International Indonesia Ferry Salanto kepada detikFinance, Senin (13/10/2014)

Menurutnya hal ini yang menjadikan Bekasi masih menjadi incaran konsumen maupun pengembang untuk hunian, dan mengembangkan bisnisnya. Selain dekat dengan kawasan industri, di Bekasi kini bermunculan pusat-pusat komersial baru seperti trade center maupun mal, hingga pusat hiburan. Positifnya, warga Bekasi tidak usah pergi jauh-jauh ke Jakarta.

"Isu mengenai Bekasi panas, saya kira di semua area iklimnya sama karena memang sekarang sedang musim panas. Kemungkinan ada karena faktor pembangunan di Bekasi sedang naik sehingga dapat mempengaruhi suhu panas," katanya.

Namun Ferry, mengakui infrastruktur jalan di Bekasi masih banyak yang rusak dan transportasi yang masih terbatas. Hal ini lah menjadi kelemahan properti di Bekasi, yang memang terletak di pinggir Jakarta.

“Infrastruktur jalan masih rusak karena harus adanya kerja sama antara pihak properti dan pemerintah karena infrastruktur jalan menjadi kunci menarik konsumen," katanya.

Bekasi Sudah Lebih Dulu Punya Gas Kota

Warga Bekasi perlu berbangga, meski sempat kena bully soal kondisi kawasan yang panas hingga jalan rusak, namun infrastruktur jaringan pipa gas sudah bisa dinikmati kawasan penyangga di timur Jakarta ini.

Bekasi hanya sedikit kota Indonesia yang sudah terhubung jaringan gas kota atau rumah tangga bisa menikmati gas bumi dengan jaringan pipa-pipa ke rumah tangga layaknya jaringan air PAM.

Jaringan gas yang dilayani oleh PT Pertamina Gas (Pertagas), yang kini agresif menggarap kawasan komersial non industri di pusat-pusat pertumbuhan bisnis. Melalui anak perusahaannya yakni PT Pertagas Niaga, Pertagas akan memasok gas untuk perumahan, mall, apartemen, hotel, restoran, rumah sakit, perkantoran dan lain sebagainya termasuk di Cikarang, Kabupaten Bekasi.
Halaman 2 dari 5
(ang/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads