Saat ini, tren orang-orang kaya sudah mulai bergeser dari semula hanya berinvestasi properti di dalam negeri, kini beralih ke luar negeri seperti Malaysia, Singapura, Australia, bahkan Amerika Serikat (AS).
Alasannya berbagai macam dari mulai investasi sampai untuk kepentingan pendidikan anak yang membutuhkan tempat tinggal di luar negeri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Vivin Harsanto, Head of Strategic Consulting Jones Lang LaSalle mencoba memberi pandangan.
Menurutnya, berinvestasi properti di Indonesia khususnya Jakarta cukup menjanjikan. Harga properti di Jakarta dalam 2-3 tahun belakangan melonjak drastis. Namun begitu, tingkat kepastian properti yang dibeli untuk bisa disewakan kembali cukup rendah, berbeda dengan Singapura yang memang sudah ada pasarnya.
"Kalau capital gain di Indonesia cukup tinggi, kenaikan harganya lebih tinggi dibanding Singapura tapi di Singapura recurring income, sewanya cukup baik, kalau Jakarta agak susah," kata Vivin saat acara konferensi pers di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (15/10/2014).
Dia menjelaskan, biasanya orang-orang kelas menengah atas Indonesia berinvestasi di luar negeri sebagai diversifikasi investasi. Harga properti di Indonesia yang terus melejit membuat para investor membidik luar negeri.
"Di Singapura juga investasinya secure, orang banyak diversifikasi investasi kesana, orang Indonesia investasi di Singapura itu sudah banyak, mereka biasanya yang sudah punya banyak properti di sini, terus mereka cari di sana, jadi bukan pemula," terangnya.
Vivin menyebutkan, sebagai perbandingan kondominium kelas premium di kawasan CBD, Jakarta dibanderol US$ 7.000-8.000 per meter persegi, sementara di kawasan CBD di Singapura bisa mencapai US$ 22.000 per meter persegi.
"Contoh kondominium di Singapura US$ 22.000 per meter kalau di sini paling mahal US$ 7-8 ribu per meter, jadi 3 kalinya, tapi di Singapura return-nya lumayan, yield bisa 45% per tahun, kalau di sini lebih kecil. Pasar ekspat banyak sekali di sana karena banyak pendatang, banyak multinational company, jadi sewanya strong, di Jakarta nggak se-strong Singapura," pungkasnya.
(drk/ang)











































