PT Kimia Farma Tbk (KAEF) punya aset tanah menganggur di berbagai lokasi. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bidang farmasi punya rencana supaya aset tersebut tidak berbengkalai dan mampu menjadi mesin uang.
Emiten berkode KAEF itu pun berniat merambah bisnis properti dengan mendirikan hotel, rumah sakit (RS) dan klinik. Kimia Farma berencana mengandeng beberapa saudara sesama BUMN seperti PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) untuk membangun RS di Jalan Saharjo, Jakarta Selatan.
"Di Saharjo investasinya sistem BOT tapi belum jadi, karena masih kajian dan permohonan," kata Direktur Pengembangan Kimia Farma, Wahyuli Syafari, di Kantor Pusat Kimia Farma, Jakarta Pusat, Kamis (16/10/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Belum memberikan pastian kajinya. Kalau kita siapkan tanahnya sudah ada. Luasnya 5.000 m2 di Saharjo," sebutnya.
Selain rencana membangun RS, Kimia Farma juga akan memperbanyak jumlah apotek hingga klinik. Klinik dan apotek tersebut akan dibangun pada lahan milik perseroan.
"Di kota lain ada aset-aset banyak. Ada di Surabaya, Medan, Denpasar," sebutnya.
Selain dibangun apotek dan klinik, lahan tersebut juga akan dikembangkan menjadi hotel seperti di daerah Dago, Bandung. Kimia Farma akan mengembangkan konsep hotel yang terintegrasi dengan apotek dan klinik.
"Itu akan jadi hotel. Lantai 1 untuk apotek, lantai 2 untuk klinik, lantai 3 untuk lobi hotel. Core bisnis kita itu saja," jelasnya.
Kimia Farma akan menyediakan lahan, sedangkan pembiayaan dibiayai oleh investor atau mitra. Pendapatan diperoleh melalui sistem bagi hasil.
"Kalau BOT kita nggak keluarkan biaya. Mereka yang bikin," jelasnya.
(feb/ang)











































