Bunga KPR Tahun Depan Diperkirakan Tidak Naik

Bunga KPR Tahun Depan Diperkirakan Tidak Naik

- detikFinance
Selasa, 23 Des 2014 18:20 WIB
Bunga KPR Tahun Depan Diperkirakan Tidak Naik
Jakarta -

Bank Mandiri memprediksi pergerakan suku bunga kredit konsumsi termasuk kredit pemilikan rumah alias KPR akan cenderung datar sepanjang tahun 2015. Pemicunya adalah kondisi global berupa kenaikan suku bunga acuan di Amerika Serikat alias Fed Fund Rate yang diprediksi bakal mundur hingga awal tahun 2016.

Ekonom Bank mandiri, Andry Asmoro secara sederhana menjelaskan, pergerakan bunga KPR dipengaruhi oleh suku bunga Bank Indonesia (BI Rate). Sementara BI Rate salah satunya dipengaruhi oleh pergerakan suku Fed Fund Rate.

"Suku bunga kredit itu mengacunya ke BI Rate. Sementara BI rate kemungkinan akan cenderung tetap hingga akhir tahun karena pemicu kenaikannya (fed fund rate) baru akan terjadi di 2016. Jadi di 2015, bunga-bunga kredit di tanah air akan cenderung flat," ujar dia dalam paparan Economic Outlook 2015, di Plaza Mandiri, Jakarta, Selasa (23/12/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lebih lanjut ia menjelaskan hubungan antara BI Rate dan Fed Rate. Disebutkannya, BI Rate adalah instrumen yang digunakan Bank Indonesia untuk mengantisipasi dampak kenaikan Fed Rate seperti inflasi dan pelemahan nilai tukar rupiah di tanah air.

"Karena Fed Rate kemungkinan akan mundur kenaikannya sampai awal tahun 2016, BI Rate-nya juga kemungkinan di 2015 nggak akan bergerak. Tapi kalau pun Fed Rate naik, asal nggak lebih dari 1% pun, BI Rate sebenarnya masih aman," jelas dia

Dalam kesempatan yang sama, Ekonom SeniorΒ Mandiri Sekuritas AldianΒ Taloputra menyebutkan bahwa Fed Fund Rate baru akan naik pada akhir tahun 2015 menjelang 2016.

Fed Rate adalah sebutan untuk suku bunga acuan yang ditetapkan Bank sentral AS (The Fed) untuk menormalisasi sikap kebijakan di sektor keuangan negara adidaya tersebut sejalan dengan indikasi perbaikan kondisi perekonomian AS.

"Kanaikan bisa menjelang 2016. Ada beberapa alasan," ujar Aldian

Ia menjelaskan, sudut pandang ini diambil lantaran meningkatnya penyerapan tenaga kerja di Amerika Serikat ternyata tidak diimbangi dengan peningkatan pendapatan masyarakat.

Di jelaskan dia, data tenaga kerja Amerika mengalami peningkatan hingga 50% pada penyerapan tenaga kerja.

"Bila rata-rata ada penambahan 200 ribu tenaga kerja baru yang diserap. Bulan ini penyerapannya 300 ribu tenaga kerja baru. Pengangguran pun menurun. Tapi ternyata itu nggak serta merta menunjukkan perbaikan ekonomi," jelas dia.

Hal ini, lanjut dia, karena meskipun penyerapan tenaga kerja meningkat namun sektornya bukanlah sektor yekonomi yang menghasilkan pendapatan tinggi. Hal ini berimbas pada pertumbuhan pendapatan yang lebih rendah darinyang diharapkan.

"Hanya tumbuh 2%. Padahal espektasinya bisa di atas 3%. Kenapa? Lapangan kerja yang terbuka itu lapangan kerja yang incomenya rendah seperti makanan minuman dan sebagainya," sebut dia.

Hal ini juga berdampak pada perbaikan ekonomi di tingkat rumah tangga yang lebih lambat dari yang diharapkan. Rendahnya pertumbuhan pendapatan rumah tangga ini juga menyebabkan pada masih rendahnya belanja masyarakat.

Dampak selanjutnya adalah tekanan inflasi menjadi rendah. Dengan tekanan inflasi yang rendah, maka tak ada alasan bagi Fed untuk cepat-cepat menaikkan suku bunga acuannya.

"Karena belanja kecil maka inflasi tidak akan mengancam Amerika dalam waktu dekat. Makanya kami berani mengatakan kalau fed nggak akan naik dalam waktu dekat. Fed akan menaikkan ratenya kalau inflasi mengancam," tuturnya.

(dna/ang)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads