Presiden Joko Widodo menargetkan pembangunan rumah mencapai 1 juta unit per tahun. Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) menilai saat ini, pembangunan rumah di Indoensia per tahun rata-rata mencapai 300-400 ribu unit. Sehingga masih banyak yang belum memiliki rumah.
Direktur Utama BTN Maryono mengatakan, kekurangan rumah atau backlog di Indonesia masih cukup tinggi dengan permasalahan yang masih sama yaitu keterbatasan lahan.
"Selama ini tidak bisa memenuhi rumah 1 juta, paling bisa 300-400 ribu unit per tahun, kenapa tidak bisa dipenuhi 1 juta," katanya saat diskusi dengan tema Emiten Bicara Industri, Gurihnya Program Sejuta Rumah BTN dalam Kacamata Investor, di bilangan Jl Adityawarman, Jakarta Selatan, Jumat (6/2/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saat ini perumahan ada permasalahan, di Indonesia ada kekurangan 13,6 juta KK yang belum punya rumah sendiri, ini yang jadi prioritas," ujar dia.
Selain itu dia mengatakan, selain lahan terbatas, permasalahan lain karena peningkatan harga yang cepat, kemudian perizinan yang berbelit menjadi hambatan dalam penyediaan rumah.
"Ada 28 izin untuk pembangunan dan waktu cukup panjang, infrastruktur juga demikian seperti PLN, air, sulit dipenuhi, kemudian pembiayaan, salah satunya bank, mudah-mudahan ini bisa diselesaikan," terang dia.
Namun begitu, program sejuta rumah Jokowi bisa menjadi peluang bagi BTN untuk menyasar pembiayaan rumah.
"Tantangan-tantangan inilah dijadikan peluang bagi kita. Ada peluang 13,6 juta dan 1 juta unit rumah pemerintah, pemerintah akan motong izin dari 28 menjadi 8, kemudahan lahan, maka tinggal bagaimana lembaga pembiayaan mempermudah untuk 1 juta," tandasnya.
(drk/zul)











































