Acara bertajuk REI Expo 2015 ini dimotori oleh PT Debindomulti Adhiswasti, dan melibatkan 150 perusahaan pengembang properti, yang mengembangkan kawasan pemukiman dan properti di lebih dari 175 lokasi.
Sayangnya, dari penelusuran detikFinance, tak banyak dijumpai rumah murah yang ikut program rumah murah atau subsidi. Apalagi untuk yang menawarkan uang muka 1%, dan cicilan 5% tetap atau skema pembiayaan FLPP alias rumah subsidi sangat sedikit.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
BUMN lain yaitu PT PP yang juga menjual rusunami di kawasan Gunung Putri Bogor dengan harga Rp 198 juta atau rumah tapak di Cianjur dengan harga Rp 110 juta Parahyangan Residence oleh Surya Nusantara.
Selebihnya, harga rumah yang ditawarkan di atas Rp 200 juta-an, bunga kredit mengambang mengikuti bunga pasar. Meski beberapa pengembang memberikan promo seperti bunga tetap 5% selama 3 tahun dan selebihnya mengikuti pasar, atau uang muka dapat dicicil 6 x, masyarakat berpenghasilan rendah pikir-pikir untuk membeli rumah.
Selain itu, ada beberapa rumah yang harganya masih miring di kisaran Rp 130 sampai 200 juta, tapi tak menggunakan program FLPP atau KPR subsidi.
Kondisi ini membuat beberapa pengunjung pameran mengeluh, misalnya Zakaria, yang ditemui di lokasi berkomentar mengenai pameran ini. Ia menyayangkan pameran ini seolah hanya untuk kalangan menengah ke atas.
"Kalau dari saya yang kelas menegah ke bawah stand untuk subsidi itu orang cari KPR atau rusunawa itu kok tidak ada, saya belum menemui. Yang lainnya lebih banyak kalangan menengah ke atas, sekitar 400 juta ke atas," kata Zakaria kepada detikFinance, Jumat (8/5/2015) yang akhirnya hanya mengumpulkan brosur saja.
Begitu juga dengan pengunjung lainnya, Parmin dan Echy, keduanya mencari rumah dengan harga di bawah Rp 200 juta-an. "Nggak nemu, harganya Rp 400 juta, 500 juta-an. Istilahnya ada kemauan tapi nggak ada kemampuan. Katanya di internet harganya ada yang Rp 120 juta-an," kata Parmin yang datang bersama Echy dan rekan-rekannya yang lain.
Seorang tenaga pemasaran sebuah pengembang, mengungkapkan bahwa pihaknya memang menjual hunian komersial, bukan rumah subsidi atau rumah murah.
"Nggak ada, kita nggak ada itu," kata Venny, seorang marketing.
Begitu juga stand-stand peserta lain yang menuturkan hanya menjual rumah komersial atau yang tak ikut dalam program FLPP.
Salah satu panitia pameran yang enggan disebutkan namanya menuturkan, dari 150 pengembang yang ikut serta dalam gelaran pameran, hanya sedikit memang yang menjual rumah dengan skema pembiayaan FLPP.
"Kalau itu sebenarnya bisa ditanyakan ke REI, kita hanya mengakomodasi. Sebenarnya 85% peserta yang ikut itu adalah peserta yang dulu ikut, karena kita tahunan. Tapi ada beberapa yang pakai DP 1% dan bunga 5%," kata panitia tersebut.
(zul/hen)











































