"Kami juga tidak ingin teman-teman di REI (Real Estate Indonesia) rugi. Ya paling tidak, untung tapi tidak terlalu banyak dalam menjalankan visi ini," kata Menteri Agraria dan tata Ruang/Kepala BPN di sela acara wellcome dinner Rakerda DPD REI Jawa Timur, di Ciputra World Surabaya, Rabu (3/6/2015) malam.
Menteri yang dari politisi Partai NasDem ini menegaskan, bahwa program sejuta rumah murah adalah, bagaimana memberikan kebutuhan papan kepada masyarakat. Namun di sisi lain, juga tidak boleh berbeda antara pengembang dengan pemerintah.
Selain itu, pembangunan rumah murah tersebut juga tidak menambah beban hidup bagi masyarakat seperti, akses jalan yang bertambah jauh menuju ke tempat kerja atau tempat sekolah bagi anak-anaknya.
"Ketika rumah murah ini tersedia bagi masyarakat, tidak menjadi adanya beban baru. Misalnya, kebutuhan transportasi anak menjadi jauh, dia bekerja lebih jauh," tuturnya.
Menurutnya, membangun itu bukan sekedar membangun rumah, tetapi membangun ruang kehidupan, infrastuktur memadai, dan daya jangkau aksesnya layak.
"Kalau membangun rumah, rumahnya tidak layak huni, aksesnya susah, mereka yang sebelumnya jalan kaki menuju ke sekolah sekarang naik angkot naik ojek, itu kemanfaatn bagi semua rumah berpenghasilan rendah tidak tercapai," terangnya.
Pembangunan sejuta rumah murah untuk masyarakat berpenghasilan rendah, tidak hanya di kota-kota besar, tapi semua daerah. Ferry berharap, seluruh DPD REI kabupaten dan kota, untuk menginventarisir kebutuhan rumah bagi masyarakat kecil.
"Semua daerah. Masing-masing daerah menginventarisir berapa kebutuhannya," tandasnya.
(ang/ang)











































