Hal ini terjadi di area Bumi Serpong Damai, Alam Sutera hingga Bintaro. Harga properti di kawasan elit itu naik drastis pasca munculnya akses jalan tol. Lantas bagaimana dengan rencana pembangunan dan pengoperasian proyek angkutan massal berbasis rel?
Analisis Properti dari Sanvills, Anton Sitorus menyebut harga properti di dekat lokasi stasiun akan naik sejalan beroperasinya angkutan massal seperti Mass Rapid Transit (MRT) hingga Light Rail Transit (LRT).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
'Booming' harga properti dengan adanya proyek kereta tampaknya tidak akan begitu besar seperti saat beroperasinya tol yang menghubungkan daerah Serpong hingga Bintaro. Proyeksi kenaikan per tahun hanya 20% sedangkan di daerah Bintaro dan BSD pernah tembus sampai 40% per tahun.
Alasannya, pembangunan infrastruktur kereta kini berbarengan dengan perlambatan ekonomi dan ketatnya pemberian Kredit Pemilikan Rakyat (KPR). Kenaikan harga properti di kawasan BSD hingga Bintaro saat itu juga dipengaruhi oleh praktik spekulasi sehingga mengerek harga menjadi tidak realistis.
"Tiga-empat tahun lalu seperii kejadiannya JORR dibuka lalu akses ke bandara dibuka. Itu memang harga properti naik drastis tapi setahun ini nggak terjadi ini. Beberapa lokasi sudah ada koreksi. Sekarang trennya sudah berubah," sebutnya.
Anton menjelaskan aksesibilitas tetap menjadi pertimbangan utama membeli properti. Aksesibilitas di sini ialah ketersediaan akses jalan tol hingga angkutan massal seperti MRT, LRT hingga KRL.
"Jalan tol penting, MRT penting, karena semua tujuannya mempermudah akses," ujarnya.
(feb/ang)











































