Rencana Perum Perumnas mendirikan rumah susun sederhana milik (rusunami) dengan harga terjangkau di dekat stasiun kereta rel listrik (KRL) Tanjung Barat, Jakarta Selatan hampir dipastikan batal. Proyek ini sempat ditargetkan dimulai dibangun Juli tahun ini.
β
"Hampir bisa dipastikan, 99% tak jadi," ujar Direktur Utama Perum Perumnas Himawan Arief Sugotoβ saat berkunjung ke kantor detik.com, Kamis (10/9/2015).
Ia menjelaskan, alasannya karena Kementerian Perhubungan (Kemenhub) sebagai pemilik lahan di sekitar Stasiun Tanjung Barat, justru mempunyai rencana lain untuk peruntukan lahan tersebut.
"PT KAI sudah menyurati kemenhub kalau mereka mau menggunakan tanah itu untuk dibangun kantor. Jadi ya kita mau bagaimana?" kata Himawan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rencana pembangunan rusunami di pinggir Stasiun Barat awalnya sebagai program sinergi BUMN, antara PT KAI dengan Perum Perumnas.
Status lahan ini adalah Hak Pengelolaan (HPL) PT KAI (Persero) di atas lahan Kementerian Perhubungan. Bila lahan ini jadi rusun, maka status lahannya adalah Hak Guna Bangunan (HGB) di atas HPL.
Perumnas awalnya akan membangun 2 tower rusunami berkapasitas sekitar 500 unit di atas lahan seluas 1,1 hektare dekat stasiun KRL Tanjung Barat. Investasi yang diperlukan sekitar Rp 60 miliar - Rp 70 miliar per tower sedangkan harga jual per unitnya adalah sekitar Rp 187-200 juta-an. β
Bahkan proyek pembangunan rusun Tanjung Barat sebagai tahap awal percontohan pembangunan hunian murah hasil 'keroyokan' BUMN. Perumnas bersama KAI akan membangun 2 unit tower dengan 500 hunian vertikal di kawasan ini.
Rencana awalnya bila rusun Tanjung Barat mulai dibangun Juli 2015, maka proses konstruksi akan selesai Juli 2017.
(dna/hen)











































