Direktur Jenderal Pembiayaan Perumahan Kementerian PU dan Perumahan Rakyat Maurin Sitorus mengatakan target tersebut adalah angka yang tidak bisa ditawar dan harus dipenuhi karena masih tingginya angak backlog atau kurang pasok perumahan. Saat ini saja ada sebanyak 13,5 juta backlog di Indonesia.
Angka backlog tersebut menggambarkan jumlah kepala rumah tangga yang belum memiliki rumah. "Berdasarkan konsep kepemilikan, angka backlog tercatat sebesar 13,5 juta di 2014," kata Maurin dalam diskusi soal program 1 juta rumah di Hotel Sahid, Jakarta, Senin (9/11/2015).
Ia mengatakan pertumbuhan jumlah rumah yang bisa dibangun setiap tahun dalam 8 tahun belakangan hanya rata-rata 50.000-70.000 unit per tahun. Padahal ada 800.000 pasangan baru yang butuh rumah setiap tahun, artinya ada 700.000 lebih kebutuhan rumah baru setiap tahun tak bisa dipenuhi sehingga menambah angka backlog perumahan di Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pemerintah menyadari hal ini sepenuhnya maka alokasi pembangunan perumahan yang tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2014-2019 meningkat lebih dari 5 kali lipat ketimbang alokasi pada RPJMN 2010-2014," tuturnya.
Sekedar catatan, dalam lima tahun ke depan Pemerintah Presiden Joko Widodo mencanangkan pembangunan perumahan sebanyak 1 juta unit setiap tahunnya.
Angka ini jauh lebih besar dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Di era Pemerintahan Presiden Soeharto sebanyak 150.000-200.000. Sementara, dalam 8 tahun belakangan, rumah baru yang bisa dibangun hanya mencapai 50.000-70.000 unit.
(dna/hen)











































