Berbagai kendala juga dialami perbankan syariah dalam pembiayaan KPR, di antaranya adalah keterbatasan dalam aksesibilitas di pasar.
"Produk syariah maupun konvensional itu di Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) pricing-nya sama. Isunya adalah saat ini bank syariah sudah mampu belum mengakses pasar yang harga rumahnya segitu. Lokasi nya jauh-jauh, di lokasi yang jauh kita punya channel nggak di sana, punya outlet nggak. Keterbatasan itu yang bisa jadi belum sanggup diatasi oleh perbankan syariah.Β Jadi isunya bukan di pricing, tapi keterbatasan dalam aksesibilitas di pasar," jelas Departement Head Consumer Bank Syariah Mandiri, Widodo Darojatun dalam acara Chat After Lunch "Rumahku Rumah Syariah" di Hong Kong Cafe, Jakarta, Kamis (12/5/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Intinya kita ingin meningkatkan the whole customer experience from end to end. Ada produk-produk yang menjelang lebaran itu permintaan tinggi, tapi ada juga yang turun. Jadi disesuaikan dengan produk saja. Ada produk non KPR untuk PNS dan pensiunan itu relatif meninggi di bulan-bulan lebaran," sebut dia.
Bagaimana caranya supaya menarik dibanding konvensional?
"Yang namanya bisnis sebisa mungkin naikin profit, jadi seandainya mampu, kita nggak perlu ikut-ikutan naikin pricing. Tapi kalau nggak mampu ya biasanya ngikutin. Di lapangan, kita relatif nya adaptif. Kalau pricing misalnya turun drastis, seperti kalau di berita bank-bank besar kayaknya nurunin pricing di bawah 10. Itu honestly bikin saya berpikir bagaimana kita tetap bisa survive tanpa harus ngorbanin profit margin. Karena kalau profit margin terlalu tergerus, rugi, perusahaan kan jadi nggak sustaining. Tetap harus adaptif intinya, tapi kita nggak ingin perang-perangan harga," ujar Widodo. (drk/feb)











































