"Jadi yang belum terbangun ada 885.889 unit. Dari MBR 624.544 unit yang belum dan Non MBR 261.354 unit," kata Direktur Jenderal Pembiayaan Perumahan Kementerian PUPR Maurin Sitorus di Kementerian PUPR, Jakarta, Selasa (28/6/2016).
Maurin merinci, dari jumlah rumah yang terbangun tersebut, sebagiannya sudah terserap oleh masyarakat. Tercermin dari realisasi KPR baru di sektor komersial sebanyak 23.358 unit dan KPR-FLPP alias KPR subsidi sebanyak 60.755 unit.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendala
Maurin mengatakan, ada sejumlah kendala mendasar yang menyebabkan realisasi program sejuta rumah belum maksimal. "Kami sudah berikan stimulus agar masyarakat mudah memiliki rumah. Tapi ternyata di lapangan suplai rumah yang dibangun pengembang belum bisa memenuhi permintaan yang ada," kata Maurin.
Penyebabnya dari mulai sulitnya mencari lahan yang sesuai, hingga masih berbelitnya aturan yang ada.
"Sekarang begini, rumah untuk MBR kan harganya kita kunci agar tidak terlalu tinggi. Masalahnya, ketika mencari tanah dan kalau harga tanahnya terlalu tinggi maka nggak akan masuk hitungan mereka untuk menyediakan rumah dengan harga yang kita kunci. Ini kendalanya," papar dia.
Untuk itu, saat ini pihaknya terus berupaya menyederhanakan perizinan dan regulasi terkait pembangunan rumah. Agar lebih banyak rumah bisa dibangun dan bisa memenuhi kebutuhan masyarakat.
"Salah satu regulasinya adalah juga mendorong penyediaan kredit konstruksi. Jadi bukan hanya masyarakatnya yang akan membeli rumah yang disubsidi, tapi pengembangnya juga kita dukung supaya bisa lebih banyak bangun rumah," pungkas dia. (dna/hns)











































