DP KPR Tinggi Bikin Penjualan Rumah Lesu

DP KPR Tinggi Bikin Penjualan Rumah Lesu

Dana Aditiasari - detikFinance
Selasa, 12 Jul 2016 19:52 WIB
DP KPR Tinggi Bikin Penjualan Rumah Lesu
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Loan To Value (LTV) atas Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dinilai punya pengaruh besar terhadap penjualan perumahan. Hal tersebut bisa dilihat dari data penjualan perumahan yang mulai mengalami penurunan di tahun 2014-1015.

Surat Edaran (SE) Bank Indonesia (BI) No 15/40/DKMP yang diterbitkan pada September 2013 terkait pembatasan LTV, membuat uang muka alias Down Payment (DP) KPR rumah pertama melambung hingga 30% dan berbuah pada penurunan penjualan rumah di tahun berikutnya.

"Waktu itu BI menaikkan DP KPR dengan harapan dapat menekan spekulan rumah. Saat itu BI menilai mulai banyak muncul spekulan yang menyebabkan harga rumah naik cepat," Pengamat Properti dari Colliers International Research Ferry Salanto kepada detikFinance, Selasa (12/7/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam perjalanannya, bukannya sukses menekan jumlah spekulan, kebijakan uni justru berbuntut pada penurunan penjualan rumah. Tak hanya rumah mewah yang sering dijadikan wahana spekulasi tetapi juga rumah kelas bawah yang umunya merupakan rumah pertama.

"Perlambatan ekonomi, kemudian kondisi politik yang kurang kondusif di tahun 2014, kemudian juga persaingan bunga semakin ketat, bunga KPR jadi sangat tinggi sempat 13-14%. Itu membuat daya beli masyarakat jadi turun. Ditambah DP KPR sangat tinggi waktu itu, akhirnya, penjualan rumah ikut menurun," sambung dia.

Menilik hasil Survey Harga Properti Residensial di Pasar Premier yang diterbitkan Bank Indoneisa, memang terlihat LTV memberi dampak yang besar pada penjualan rumah. Dampaknya paling terasa di tiga bulan pertama tahun 2014.

Pada Triwulan pertama tahun 2014, penualan properti residen sial mengalami perlambatan secara kuartalan. Bila pada rentang Oktober-Desember atau triwulan IV-2013 penjualan properti tumbuh hingga 31,54%, di Triwulan 1-2014 pertumbuhannya hanya 15,33%.

Yang artinya ada perlambatan yang cukup dalam pada sisi penjualan hunian. Penurunan penjualan terjadi pada semua jenis rumah terutama pada tipe besar.

Meski sempat kembali tinggi hingga mencapai 36,65% di triwulan 2-2014, namun penjualan rumah kembali melambat di triwulan 3-2014 yang mampu mencatatkan pertumbuhan sebesar 33,69% saja. Penurunan penjualan masih terjadi di segmen rumah besar.

Di triwulan 4-2014, sebenarnya mulai tercatat adanya pertumbuhan penjualan mencapai 40,07%. Sayang kenaikan penjualan tidak terjadi merata, segmen rumah kecil saja yang mengalami kenaikan jumlah penjualan. (dna/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads