Namun demikian, meski belum masuk pada fase krisis, sejumlah sektor seperti ritel masih mengalami kontraksi.
Menurut Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Tutum Rahanta mengatakan, sektor ritel mengalami kelesuan sejak tahun 2014. Penjualan ritel masih seret dan tidak mengalami pertumbuhan sejak 2 tahun belakangan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Diungkapkannya, penjualan ritel yang paling terasa yakni barang-barang non pangan. Selain itu, tahun 2016 yang diharapkan bisa membaik, kondisinya sama dengan 2 tahun lalu.
"Penjualan pangan tidak berubah, yang sudah anjlok penjualannya itu barang non pangan seperti baju dan lainnya, tafsirkan sendiri saja barang-barang non pangan. Pengusaha ritel memang masih ekspansi, tapi tidak seagresif sebelum tahun 2014," ujar Tutum.
"Kemudian teorinya kan tahun ini bisa lebih baik, ternyata masih sama kaya sejak 2014 yang tidak tumbuh sama sekali yang artinya turun kalau dalam ritel. Mengharapkan infrastruktur juga paling tidak baru terasa 2 tahun lagi," tambahnya. (ang/ang)











































