Follow detikFinance
Kamis 23 Feb 2017, 19:43 WIB

Promosi Cicil DP Banyak Dipakai Pengembang, Lokasinya di Luar Jakarta

Muhammad Idris - detikFinance
Promosi Cicil DP Banyak Dipakai Pengembang, Lokasinya di Luar Jakarta Foto: Tim Infografis, Luthfy Syahban
Jakarta - Down Payment (DP) atau uang muka tengah jadi perbincangan hangat. Ini setelah Calon Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan melontarkan gagasan tersebut sebagai solusi sulitnya kepemilikan kebutuhan papan.

Konsep yang ditawarkan Anis kepada Masyarakat Berpendapatan Rendah (MBR), yakni dilakukan dengan meminta masyarakat menabung Rp 2,3 juta selama 6 bulan.

Sebenarnya, konsep menabung DP telah dipraktikkan sejak lama oleh beberapa perusahaan pengembang. Nabung bukan istilah menabung, melainkan dengan pengertian lain, yakni mencicil DP.

Seperti yang terlihat di kawasan pinggiran Jakarta yang pembangunan perumahan barunya masih sangat besar seperti kawasan Cibubur, Kranggan, Cileungsi, Cibinong, sampai ke Jonggol yang berbatasan dengan Kabupaten Karawang.

Setiap persimpangan jalan di kawasan hunian yang bisa ditempuh 1 sampai 3 jam perjalanan dari pusat Kota Jakarta tersebut, sangat mudah dijumpai spanduk, baliho, dan papan reklame tawaran hunian yang pembayaran uang mukanya bisa dicicil.

Para pengembang tersebut rata-rata menawarkan DP 10% dari harga rumah. Jumlah 'uang panjar' tersebut kemudian bisa dicicil 6 bulan, bahkan ada yang bisa dicicil sampai 16 bulan.

Dori, Staf Marketing Metland Transyogi, menuturkan untuk memudahkan pembeli mendapatkan rumah pihaknya menawarkan DP yang bisa dicicil selama dalam 10 kali.

"Jadi agar tidak terbebani DP, itu bisa dicicil sebanyak 10 kali dalam 10 bulan. Karena beberapa orang kan susah bayar DP, kita berikan fasilitas itu. Pembayaran cicilan pertama sekaligus juga membayar booking fee," kata Dori ditemui di Kantor Marketing Meetland Transyogi, Cileungsi, Bogor, Kamis (23/2/2017).

Setelah cicilan DP lunas, lanjutnya, pembeli properti bisa mengajukan kredit KPR sebagai mana umumnya. Plus ditambah beban biaya untuk Akta Jual Beli (AJB), dan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB).

"Jadi sebenarnya tidak ada yang berbeda dengan skema KPR biasa. Ini fasilitas pengembangan untuk memudahkan masyarakat yang belum punya uang DP," terangnya.

Dia mencontohkan, untuk pembelian unit rumah tipe 45/72 di salah cluster di Metland Transyogi yang harganya Rp 705 juta, maka pembeli bisa mencicil dengan membayar di cicilan pertama plus booking fee sebesar Rp 17.625.000, dan cicilan selanjutnya sebanyak 9 kali setiap bulan sebesar Rp 5.875.000.

"Kalau ternyata kemudian DP sudah lunas tapi KRP ditolak bank, maka uang dikembalikan tapi dipotong PPN dan booking fee yang sudah disetor," jelas Dori. (idr/dna)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed