Follow detikFinance
Senin 27 Feb 2017, 09:58 WIB

Siapkan Hunian MBR di DKI, Lebih Tepat Rusunawa atau Rusunami?

Muhammad Idris - detikFinance
Siapkan Hunian MBR di DKI, Lebih Tepat Rusunawa atau Rusunami? Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Persoalan hunian bagi Masyarakat Berpendapatan Rendah (MBR) masih jadi salah satu pekerjaan rumah di Jakarta. Mahal dan terbatasnya harga tanah di ibu kota, membuat pemenuhan kebutuhan papan sulit dicarikan jalan keluarnya.

Ketua Umum Real Estat Indonesia (REI) DKI Jakarta, Amran Nukman, mengatakan konsep rumah susun sewa sederhana (rusunawa) jadi pilihan paling moderat untuk solusi hunian bagi MBR. Hal ini lantaran pembangunan rusunawa oleh pengembang bisa menggunakan lahan milik Pemda DKI.

"Untuk MBR di ibukota negara ini, makin bergeser ke model rusunawa, karena lahan bisa memanfaatkan lahan-lahan Pemprov DKI. Dengan rusunawa maka fokus pembangunan tinggal ke persoalan perizinan, pembangunan dan pemanfaatan unit rusunawa. Sedangkan persoalan pengadaan lahan sudah bisa dianggap selesai prosesnya," kata Amran kepada detikFinance, Senin (27/2/2017).

Sementara jika menggunakan skema rumah susun sederhana milik (rusunami), maka pengembang akan terbentur aturan penggunaan lahan pemerintah. Di sisi lain, jika menggunakan tanah non pemerintah, harga tanah di Jakarta sudah terlalu mahal untuk hunian MBR.

"Sedangkan skema rusunami akan terbentur persoalan mendasar berupa pengadaan lahan yang masih layak harga modal pembeliannya," jelas Amran.

Diungkapkannya, tanpa stimulus dari pemerintah berupa lahan, pengembangan lebih mempertimbangkan membangun hunian vertikal untuk pasar komersial di Jakarta. Menurut dia, dengan perizinan yang sama, namun keuntungan yang didapat berbeda, tentu pengembang lebih giat membangun rusun komersial.

"Karena membangun rusun komersial dan rusunami sama saja langkah-langkah yang dilalui dalam prosesnya, namun akan berbeda di hasil hitungan bisnisnya. Struktur bangunan dan mekanikal elektrikal rusun komersial dan rusunami akan sama saja desainnya," jelas Amran.

Akan tetapi untuk finalisasi bangunan, seperti penggunaan keramik dan sebagainya.

"Kemudian penggunaan material toilet di lobby yang berbeda antara rusun komersial dan rusunami. Dan banyak perbedaan estetika lainnya. Dengan perbedaan hanya pada faktor estetika ini, maka faktor harga perolehan lahan dan margin hasil jual akan membuat rusunami makin tidak menarik dibanding rusun komersial," pungkasnya. (idr/mkj)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed