"Begitu ada infrastruktur enggak mungkin harganya murah lagi, pasti ikut ketarik naik. Kalau dulu modelnya adalah developer buka proyek baru, infrastruktur nya dia yang bangun patungan lah sama pemerintah atau asli dia yang bangun. Jadi harganya naiknya agak telat, nunggu infrastruktur nya jadi," kata Country General Manager rumah123, Ignatius Untung saat ditemui dalam jumpa pers di Branche Bistro, Jakarta, Rabu (22/3/2017).
"Kalau sekarang kan kebalik. Pemerintah bangun infrastruktur dulu, sehingga harga udah pada naik kan," tambahnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini didukung oleh sejumlah data yang diolah dari berbagai sumber data oleh situs properti rumah123. Generasi milenial di Jakarta saat ini didominasi oleh yang berpenghasilan Rp 4 juta ke bawah. Penghasilan ini ditenggarai hanya mampu mencicil rumah dengan kisaran Rp 1,3 juta per bulan.
Mirisnya, ketersediaan properti (rumah atau apartemen) di Jakarta yang cicilanya bisa Rp 1,3 juta per bulannya hanya sekitar 0,64%. Tak banyak berbeda, untuk yang berpenghasilan Rp 4-7 juta pun hanya sekitar 2,38% dengan kemampuan cicilan sekitar Rp 2,15 juta per bulan.
Suplai properti yang paling banyak justru ada pada segmen atas, yakni yang berpenghasilan lebih dari Rp 12 juta per bulan, dengan kemampuan mencicil lebih dari Rp 3,6 juta per bulan. Ketersediaan properti untuk kelas ini mencapai 95%.
Baca juga: Gaji Kaum Milenial di Bawah Rp 7 Juta, Gimana Mau Beli Rumah?
Hal ini tak bisa dipungkiri. Lantaran harga tanah yang sangat mahal di Jakarta. Perhatian dari pemerintah untuk mengatasi hal ini pun dirasa perlu, karena jika terus dibiarkan, diprediksi generasi milenial yang berpenghasilan Rp 4 juta per bulan akan kehilangan daya belinya di tahun 2018.
"Milenial yang berpenghasilan Rp 4 juta terancam akan kehilangan daya beli rumah di tahun 2018. Kemampuan mencicilnya Rp 1,320 juta di 2018, sementara cicilan KPR nya sudah Rp 1,337 juta. Jadi ada selisih Rp 20 ribu," pungkasnya. (mkj/mkj)










































