Generasi milenial yang akan mendominasi populasi penduduk Indonesia ke depan ternyata 80% nya berada pada kelompok level bawah kelas menengah yang penghasilannya di bawah Rp 7 juta. Jika lebih diperkecil, 46% di antaranya berpenghasilan di bawah Rp 4 juta.
Hal ini tentu saja berbanding terbalik dengan jumlah suplai properti yang tersedia bagi generasi ini. Ketersediaan segmen properti tidak sesuai dengan komposisi demografi Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk itu pemerintah menurut dia harus memberikan insentif kepada pengembang agar mau menyediakan rumah atau properti murah sebagai ketersediaan bagi generasi milenial di Jakarta.
"Margin pengembang sendiri sebenarnya tidak membesar, walaupun harga properti naik. Karena biaya pokoknya sudah keburu tinggi. Ketika mereka punya kesempatan buat dapat keringanan, mereka (pengembang) pasti juga pengen bantu. Tapi belum ada diomongin sama pemerintah," tutur dia.
"Kalau di satu sisi harus melayani masyarakat doang, enggak dikasih insentif, kan susah juga. Bentuk insentifnya bisa macam-macam. Seperti biaya perizinan, pajak-pajak," sambungnya.
Seperti diketahui, berdasarkan data yang diolah oleh situs properti rumah123, harga properti (apartemen dan rumah) di Jakarta didominasi oleh yang harganya Rp 480 juta ke atas (95% dari total suplai). Harga Rp 480 juta ke atas mewajibkan cicilan per bulannya lebih dari Rp 3,6 juta per bulan.
Hal ini berbanding terbalik dengan penghasilan milenial di Jakarta, yang penghasilannya paling banyak berada pada kisaran Rp 4 juta dengan kemampuan mencicil rumah hanya Rp 1,3 juta per bulan. (mkj/mkj)











































