Lantas apa faktor yang mendasari sulitnya kaum 'menengah tanggung' ini menjangkau kemampuannya dalam membeli rumah?
Perencana keuangan Andi Nugroho mengatakan, gaya hidup dan cara berpikir menjadi hal yang patut dipikirkan secara serius oleh generasi ini. Pasalnya, harga properti akan terus semakin naik, dan hal ini menjadi sesuatu yang tidak bisa ditahan dan di luar kendali.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Membiasakan diri untuk menabung dirasa masih menjadi tips yang mumpuni bagi generasi ini. Jika sudah mulai berpenghasilan, maka membiasakan diri untuk menabung dan berinvestasi adalah suatu kewajiban
"Mulai dari investasi logam mulia ataupun untuk jangka panjang dalam bentuk reksa dana saham. Bahkan ada beberapa yang sudah mulai belajar untuk berinvestasi di pasar saham langsung. Intinya mau belajar hal-hal baru," tutur Andi.
"Makanya concern-nya terutama adalah gaya hidup dan kesadaran bahwa keadaan alias harga-harga bukan semakin murah tapi semakin mahal. Makanya gaya hidup yang harus diatur," pungkasnya.
Seperti diketahui, saat ini di Jakarta, penghasilan milenial masih menumpuk di level bawah kelas menengah. Sebanyak 46% generasi milenial di Jakarta penghasilannya masih di bawah Rp 4 juta. Hanya 6% yang penghasilannya lebih dari Rp 12 juta.
Sedangkan suplai properti di Jakarta harganya yang paling banyak Rp 480 juta ke atas atau 95% dari total suplai. (ang/ang)











































