Follow detikFinance
Sabtu 06 May 2017, 16:52 WIB

Masalah Rumah Murah: Lokasi Jauh dan Sulit Transportasi

Hendra Kusuma - detikFinance
Masalah Rumah Murah: Lokasi Jauh dan Sulit Transportasi Foto: Eduardo Simorangkir
Jakarta - Penyediaan rumah murah khusus masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) memang masih dipersoalkan mengenai lokasinya yang jauh dari pusat kota dan belum tersedianya sistem transportasi umum.

"Itu memang salah satu persoalan cukup besar, masalah infrastruktur harus dipikirkan pemerintah ketika membangun rumah FLPP," kata Corporate Secretary PT Intiland Development, Theresia V Rustandi saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Sabtu (6/5/2017).

Presiden Joko Widodo (Jokowi) belum lama ini meresmikan hunian rumah dengan harga Rp 112 juta dengan uang muka atau DP 1% yang ditujukan bagi MBR dengan penghasilan Rp 4 juta ke bawah setiap bulannya.

Lokasinya pun terbilang jauh dari pusat kota, lokasinya berada di Cikarang. Jadi, kata Theresia, pemerintah juga harus memikirkan infrastruktur transportasi pada saat membangun rumah murah.

"Dulu itu di beberapa daerah yang saya pernah datangi memang permasalahannya tanah murah itu jauh dari pusat kota, infrastruktur jalan menuju lokasi masih susah, kalau ada jalan pasti jalannya rusak-rusak, tidak ada kendaraan umum yang masuk," tambahnya.

Dia mencontohkan, pembangunan rusunawa yang berlokasi di Daan Mogot, Jakarta Barat ini memiliki lokasi yang kurang lebih 2 km dari jalan raya utama. Jalan yang tersediapun dibilang masih belum layak karena masih batuan krikil.

"Jadi memang harus dibangun transportasi masal, agar bangun rumah FLPP ini ketika sudah dibangun ada feeder dan dekat transportasi masal," jelasnya.

Dia menyarankan, untuk masyarakat yang ingin membeli rumah murah juga karena dekat dengan satu transportasi masal saja. Misalnya, membeli atau menentukan lokasi karena sudah ada layanan kereta commuter line.

Sebaiknya, kata Theresia, masyarakat yang ingin membeli rumah murah harus terbiasa dengan layanan transportasi umum lainnya, seperti bus.

"Karena itu akan membebani transportasi, karena dia harus naik commuter saat kerja di Jakarta. Itu yang membuat beban transportasi menjadi berat. Jadi disediakan feeder oleh pengembang, itu mengatasi masalah yang memang commuter," pungkasnya. (ang/ang)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed