Rusun yang terintegrasi dengan stasiun kereta api ini dikenal dengan konsep transit oriented development (TOD)
"Ini khusus untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) saja," ujar Deputi Usaha Konstruksi dan Sarana dan Prasarana Perhubungan Kementerian BUMN, Pontas Tambunan dalam Konferensi Pers dengan tema Sinergi Membangun Infrastruktur di Indonesia di Kementerian BUMN, Jakarta Pusat, Senin (29/5/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada 74 itu di sekitar Jabodebek aja," tutur Pontas.
Pontas menambahkan, uang muka untuk memiliki hunian di atas stasiun kereta api pun sangat terjangkau, yaitu 1% dari harga rusun yang menurutnya berada di kisaran Rp 200 juta.
"DP 1%, harganya mungkin Rp 200 jutaan kali ya," ujar Pontas.
Dengan adanya rusun di atas stasiun, lanjut Pontas, biaya transportasi masyarakat pun bisa berkurang. Pasalnya, mereka yang tinggal di rusun di atas stasiun tidak perlu repot-repot menggunakan transportasi umum lainnya.
"Itu bagusnya itu mixed use artinya biaya cost-nya kan kita keluarkan cost hampir 30% transport. Dengan di mixed use turun kereta kan gitu terus mau makan ada di situ jadi mengurangi biaya kepadatan itu sendiri," kata Pontas.
Pontas menambahkan, pembangunan rusun di atas stasiun nantinya akan dilakukan oleh Perumnas dan BUMN karya lainnya.
"Banyak yang ikut, PT PP ikutnya, pokoknya karya-karya ikut," tutup Pontas. (ang/ang)











































