Namun adanya tambahan suplai baru tersebut tak diiringi oleh jumlah penyerapan tingkat keterisian ruang perkantoran. Dengan jumlah suplai area baru 270 ribu m2 dan penyerapan permintaan hanya sebesar 72 ribu m2 di semester I, tingkat kekosongan (vacancy) pasar perkantoran di area CBD mencapai 18,4% atau naik 2,7% dibanding semester sebelumnya yang jumlahnya 15,7%.
"Memang banyak ruang kosong yang ada di market office CBD saat ini. Ini terimplikasi ke harga sewa yang masih lemah atau tertekan," kata Kepala Departemen Riset dan Konsultasi Savills Indonesia, Anton Sitorus dalam jumpa pers di Panin Tower, Jakarta, Rabu (26/7/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Harga sewa kami perkirakan masih akan terus turun sampai 2019 dan baru mulai recover di 2020," tutur Anton.
Adapun harga sewa yang turun lantaran semakin banyaknya suplai ruang perkantoran seiring akan selesainya sejumlah gedung perkantoran hingga 2020 nanti. Wilayah Sudirman akan memjadi yang paling banyak menambah jumlah suplai ruang perkantoran tersebut. Sedangkan sebanyak 57% suplai baru akan diisi oleh ruang perkantoran grade A, 40% grade premium dan 3% di grade B. (mkj/Eduardo Simorangkir)











































