Follow detikFinance
Rabu 26 Jul 2017, 20:42 WIB

Tak Lagi Jadi Ibu Kota, Bagaimana Nasib Sektor Properti di Jakarta?

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Tak Lagi Jadi Ibu Kota, Bagaimana Nasib Sektor Properti di Jakarta? Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Pemerintah tengah mengkaji serius pemindahan Ibu Kota dari Jakarta ke kota baru di luar Pulau Jawa. Meski masih jadi kajian, namun perpindahan Ibu Kota dirasa bakal banyak membawa dampak baik bagi kota baru nanti, begitu pula untuk Jakarta.

Khusus untuk sektor properti, para spekulan tanah diprediksi bakal mengurangi Jakarta karena aktivitas pembangunan di Jakarta yang bakal lebih stabil.

"Karena yang jadi salah satu problem properti itu adalah spekulan tanah, semua menganggap Jakarta adalah pusat dari segalanya, sehingga akhirnya menutup kemungkinan daerah-daerah lain bisa menyamai Jakarta," ungkap Kepala Departemen Riset dan Konsultasi Savills Indonesia, Anton Sitorus dalam jumpa pers di Panin Tower, Jakarta, Rabu (26/7/2017).

"Dengan berkurangnya pandangan seperti itu, regulasi bisa diatur, city planning akan lebih baik dan akhirnya secara jangka panjang akan bagus untuk sektor properti itu sendiri," sambungnya.

Hal yang sama juga akan terjadi pada Ibu Kota baru nanti. Perusahaan pemerintah dan juga swasta diyakini akan melebarkan bisnisnya ke kota baru tersebut, yang dimulai dari pembangunan pusat ritel.

Namun demikian, hal ini menurutnya tak bakal mengurangi harga jual properti di Jakarta. Pasalnya, Jakarta telah tumbuh menjadi pusat bisnis yang telah memiliki pasar sendiri.

"Tapi sebenarnya orang menetapkan beli properti itu bukan karena statusnya, tapi karena aspek suplai dan demand. Contoh di Amerika, New York dan DC. Harga propertinya jauh berbeda. Di New York tetap tinggi. Makanya kalau terjadi perpindahan, nilai properti di Jakarta enggak akan banyak pengaruh," tukasnya. (mkj/mkj)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed