"Paling dilirik yang jelas properti. Saya kira begini, mereka kan suka datang ke Indonesia sebagai turis, bawa keluarga sendiri, dan biasanya punya keluarga di sini. Ya properti buat tinggal. Bisa dipakai untuk sharing keuntungan dan lainnya. Jadi sangat atraktif untuk diaspora," ujar Herry ditemui di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Selasa (15/8/2017).
Dia mengharapkan, ada aturan yang memberikan insentif bagi para diaspora bisa berinvestasi di Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bagaimana agar ada insentif seperti kemudahan mendapatkan fasilitas pembelian. Kemudian investasi properti tapi kemudian bisa dibuat semacam company yang mengurus propertinya, fasilitas dalam membeli properti tertentu. Ini kan bisa membuat sektor properti booming," jelas Herry.
Apalagi, lanjutnya, pendapatan rata-rata diaspora Indonesia di luar negeri dalam setahun sekitar US$ 45.000.
"Diaspora Indonesia itu sangat besar, ada 8 juta orang. Penghasilan setahun diaspora di luar negeri itu rata-rata US$ 45.000. Kalau investasi 10% dari itu ya US$ 4.500 dikalikan 8 juta orang. Itu angka yang sangat besar sekali," tutur Herry. (idr/hns)











































