Follow detikFinance
Jumat 29 Sep 2017, 14:05 WIB

Begini Kronologi Tayangnya Iklan Online 'Mal Senayan City Dijual'

Fadhly F Rachman - detikFinance
Begini Kronologi Tayangnya Iklan Online Mal Senayan City Dijual Foto: dok. Rumah123.com
Jakarta - Beberapa waktu lalu beredar iklan di salah satu situs jual-beli online, rumah123.com bahwa mal Senayan City dijual dengan banderol Rp 5,5 triliun. Iklan itu ditayangkan oleh pihak agen penjual Century21.

Century21 pun mengklarifikasi bahwa mal Senayan City sebenarnya tidak dijual. Adanya penayangan iklan tersebut karena kelalaian salah seorang marketing Century21 bernama Syafa yang menayangkan iklan tersebut tanpa melakukan konfirmasi.

"Saya sampaikan permohonan maaf kepada PT Manggala Gelora Perkasa (Senayan City) atas iklan yang saya tayangkan bulan Agustus tentang penjualan mal Senayan City. Saya tidak memiliki tendensi apapun atas iklan tersebut. Saya memasang iklan tersebut karena naluri sebagai marketing. Namun ternyata saya memiliki informasi yang tidak valid dan tidak benar, dan kelalaian saya pribadi," jelas Syafa dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (29/9/2017).

Syafa pun menjelaskan kronologi awal terjadinya penayangan iklan tersebut. Sekitar bulan April-Mei 2017 lalu, dirinya mendapatkan kabar Mal Senayan City hendak dijual. Informasi itu dia dapatkan dari aplikasi grup WhatsApp miliknya.

"Perihal kenapa saya bisa mengiklankan data ini, atau informasi ini. Itu awalnya adalah saya mendapatkan informasi dari salah satu sumber dari media WhatsApp atau pesan WhatsApp. Pesan itu saya dapat dari WhatsApp pribadi. Ternyata setelah saya cek di beberapa grup pun dapat informasi yang saya dengar, itu memang di WhatsApp grup pun ada," jelasnya.

Dirinya mengaku baru menjalani profesi sebagai agen marketing. Karena masih baru, dia pun berinisiatif untuk menayangkan iklan penjualan mal Senayan City tanpa melakukan cek dan ricek. Hal itu dilakukannya sekitar bulan Agustus 2017 lalu.

"Setahu saya sebelumnya untuk iklan ini sudah ada beberapa agen pun yang mengiklankan. Setahu saya. Kenapa saya inisiatif untuk iklankan ini? hanya kembali ke naluri saya ke marketing untuk mencari sisi selling dan mencari peluang untuk membantu memasarkan. Yang saya klarifikasi ternyata itu tidak valid, tapi kelalaian saya tidak menghapus iklan tersebut," sambungnya.

Kemudian setelah beberapa lama iklan tersebut tayang, baru lah Syafa sadar kalau dirinya belum menghapus iklan tersebut. Karena kehebohan yang terjadi, akhirnya Syafa meminta agar menurunkan penayangan iklan penjualan mal Senayan City.

"Di kemudian hari saya tahu tidak valid, saya tidak mengecek satu-satu iklan yang saya post atau admin post. Ternyata saya baru tahu hari Senin (25/9/2017) bahwa ada yang konfirmasi ke saya mall Senayan City dijual, saya langsung bilang tidak. Dari satu info atau sumber yang saya dapat, itu saya langsung bilang tidak. Saya langsung tanyakan admin, apa iklan sency ada di iklan saya. Ternyata benar. Jadi dari Agustus sampai September ada rentang waktu. Tapi di rumah123.com itu lalainya saya untuk tidak menurunkan," terangnya.

Dia pun mengakui bahwa tidak mengikuti prosedur penjualan property yang seharusnya, karena tidak melakukan cek dan ricek dan melakukan konfirmasi terhadap pihak penjual.

"Saya tidak mengikuti SOP yang berlaku di century. Untuk yang benar, jika kita ingin memasarkan produk kita ada yang namanya PJP (Perjanjian Jasa Pemasaran). Itu kita terikat dengan satu owner, dan kita boleh memasarkan jika sudah ada itu. Termasuk misalnya kalau kita mau memasarkan punya teman, kita harus tahu legalitasnya secara tertulis. Jadi memang kesalahan saya," katanya.

Lantas bagaimana prosedur yang seharusnya dilakukan?

"Kami sudah sampaikan di awal untuk prosedural dimana kita harus atensi itu tentang legalitas dan kevalidan data, dari mana sumbernya. Kami selalu menekankan untuk biasanya mereka harus ketemu owner atau kuasa jual yang terlegalisir. Jadi jelas semuanya, itu wajib ikutin standar SOP kita," kata Vice Prinsipal Century21 Metro, Yohan Yan dalam kesempatan yang sama.

"Tapi perlu kami sampaikan disini, marketing kami cukup banyak. Ada 153 marketing. Dan disini kami memang sudah memberikan rules baik lewat training create atau basic. Tapi ada satu kondisi dimana kami tidak bisa 100% mengawasi mereka, karena mereka juga ada interaksi dengan agen properti lainnya dan kami tidak bisa awasi satu persatu. Ini memang ada kelalaian dari pihak kami juga," sambungnya.

Dirinya juga mengatakan, kalau setiap agen marketing sendiri bisa bebas melakukan penjualan dengan meminta pihak admin situs penjualan online untuk melakukan penayangan iklan. Oleh sebab itu terjadi masalah seperti ini.

"Jadi memang mereka (marketing) ada bendera kami, tapi (iklan) mereka bebas. Karena itu etalase mereka untuk mengiklankan," jelasnya. (dna/dna)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed