Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 28 Nov 2017 19:34 WIB

Penjelasan Rumah123 Soal Survei Ancaman Milenial Tak Punya Rumah

Danang Sugianto - detikFinance
Foto: Tim Infografis: Luthfy Syahban Foto: Tim Infografis: Luthfy Syahban
Jakarta - Pada akhir tahun lalu Rumah123 melakukan survei mengenai kondisi industri properti saat ini. Survei tersebut memprediksi kemampuan generasi milenial untuk membeli rumah.

Hasil survei yang juga bekerjasama dengan Karir.com menyebutkan dalam 5 tahun sejak 2016 harga rumah termurah di Jakarta bisa naik mencapai 125%. Sementara dalam periode yang sama kenaikan gaji sekitar 80%.

"Survei ini sudah kita lakukan sejak akhir tahun lalu," tuturnya saat dihubungi detikFinance, Selasa (28/11/2017).

Dari survei itu juga ditemukan hanya sekitar 17% kaum milenial yang bekerja di Jakarta mempunyai gaji Rp 7,5 juta per bulan ke atas. Sisanya, 83% di bawah angka tersebut.

Dengan penghasilan itu, maka kelompok pekerja itu hanya bisa membeli rumah di kisaran Rp 300 juta. Hal itu mempertimbangkan jumlah cicilan KPR dari penghasilan itu hanya bisa mencicil hingga Rp 2,2 juta per bulan.

Menurut data Rumah123 rumah dengan harga Rp 300 juta di Jakarta hanya tinggal 1%, itupun berada di pinggir Jakarta yang berbatasan dengan wilayah lainnya. Dengan model analisis yang digunakan kenaikan harga rumah sekitar 20% per tahun sehingga harga rumah tersebut juga akan meningkat menjadi Rp 750 juta dalam 5 tahun ke depan.

Video 20Detik: Gaya Hidup Boros Ancam Milenial jadi Gelandangan

[Gambas:Video 20detik]


Sementara kenaikan gaji per tahunnya hanya 10%. Sehingga pada 2021 gaji yang tadi disebut hanya naik menjadi sekitar Rp 12 juta. Dari penghasilan itu hanya mampu membeli rumah dengan cicilan Rp 3,6 juta. Sementara untuk rumah harga Rp 750 juta dibutuhkan cicilan Rp 5,6 juta per bulan.

Untung menjelaskan, survei tersebut pada dasarnya hanya untuk memberikan gambaran terkait kemungkinan permasalahan yang dihadapi generasi milenial membeli hunian dalam beberapa tahun mendatang.

"Jadi sebenarnya fokusnya untuk memberikan informasi buat milenial, pemerintah dan semua stake holder bahwa ini loh ada masalah ini. Bahwa milenial kalau melihat trend-nya akan sulit memiliki properti," tuturnya.

Kendati begitu, Untung menegaskan, bahwa bisa saja survei tersebut bisa berubah kenyataannya, jika pada stake holder menanggapi permasalahan tersebut. Seperti generasi milenialnya sendiri yang mulai sadar bahwa kebutuhan akan papan sangat penting guna menjalani hidup.

Para pengembang juga mungkin menjadi sadar bahwa menjual rumah dengan harga selangit akan sulit terjual. Sebab generasi milenial yang menjadi pasar utama saat ini membutuhkan hunian yang terjangkau.

"Mungkin marketnya mulai mengoreksi, wah iya kalau seperti itu kita tidak bisa jualan. Karena milenial harusnya sudah menjadi buyer terbesar, sehingga mereka mulai down spek dan lain-lain," tandasnya. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed