Follow detikFinance
Selasa, 13 Feb 2018 10:00 WIB

Pengembang Siap Bangun Rumah Murah untuk Pensiunan

Zulfi Suhendra - detikFinance
Foto: Danang Sugianto Foto: Danang Sugianto
Jakarta - Pengembang perumahan yang tergabung dalam Real Estat Indonesia (REI) siap membangun rumah untuk para pensiunan pegawai negeri sipil (PNS). Hal ini sejalan dengan target REI membangun 450 ribu unit rumah di 2018.

Dalam hal ini, REI bekerja sama dengan PT Taspen (Persero) selaku penjamin dana pensiunan PNS dengan pembiayaan didukung oleh PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk dan PT Bank Mandiri Taspen.

"Ini merupakan sebuah terobosan besar. Ada banyak contoh kasus, misalnya, pengembang anggota REI pernah mengantongi minat dari 400 calon konsumen yang merupakan pegawai negeri sipil guru. Dari jumlah itu, yang dapat lolos Bank Indonesia (BI) Checking hanya tujuh calon konsumen. Alasannya tak lain karena si calon konsumen ini sudah menjelang usia pensiun," kata Ketua Umum REI Soelaeman Soemawinata dalam keterangannya, Selasa (13/2/2018).

Kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan yang dilakukan oleh Ketua Umum DPP REI Soelaeman Soemawinata didampingi Sekretaris Jenderal DPP REI Totok Lusida, Direktur Utama Taspen Iqbal Latanro, Direktur Utama BTN Maryono, dan Direktur Utama Bank Mantap Josephus K Triprakoso.

"Ini menghapus birokrasi di bidang keuangan. Rakyat Indonesia, walaupun sudah memasuki usia pensiun, tetap memiliki hak yang sama dalam bermukim. Sama-sama berhak untuk punya rumah" tegasnya.

Menurut Eman, sapaan Soelaeman, pengembang dipastikan tidak akan menolak calon konsumen meskipun sudah masuk usia pensiun. Hal ini seiring target pembangunan rumah yang dicanangkan DPP REI per tahun 2018 ini yaitu 250 ribu unit rumah bersubsidi dan 200 ribu unit rumah non subsidi. Sedangkan realisasi pembangunan perumahan bersubsidi tahun lalu mencapai 206 ribu unit rumah.

"Pengembang anggota REI tidak akan menolak calon konsumen yang usianya sudah memasuki pensiun atau sudah pensiun sekalipun. Asalkan mereka sudah mengantongi rekomendasi dari PT Taspen dan didukung pembiayaannya baik oleh BTN atau pun Bank Mandiri Taspen," bebernya.

Berdasarkan data pada 2016, terdapat 960.000 orang dari 4,5 juta ASN di Indonesia masih belum memiliki hunian karena beragam alasan, antara lain akibat kendala finansial serta lokasi hunian yang tidak strategis.

"Kita tahu kebutuhan perumahan sangat tinggi, dan rumah menjadi tumpuan bagi masyarakat. Ada BTN serta Bank Mandiri Taspen, masing-masing memiliki skill dan kemampuan, serta sumberdaya serta finansial yang memadai. Dan dengan dukungan pengembang anggota REI yang bangun perumahan," kata Direktur Utama PT Taspen, Iqbal Latanro.

Menurutnya, skema kredit khusus pengadaan rumah bagi pensiunan ini, memungkinkan masa angsuran hingga nasabah berusia 70 tahun. Dengan masa angsuran yang panjang, peserta Taspen bisa diringankan dalam membayar uang muka atau angsuran rumah.

Skema kredit ini bisa diperoleh peserta Taspen yang masih aktif, menjelang pensiun, atau sudah masuk masa pensiun. Selama ini para pensiunan tak dapat mengajukan KPR (Kredit Pemilikan Rumah) karena terbentur aturan batas usia. "Taspen menerapkan mekanisme repayment capacity yang lebih longgar di mana pensiunan Rp 4,5 juta per bulan diperkenankan untuk memiliki angsuran KPR hingga maksimal Rp 3 juta karena dia sudah pensiun," jelas Iqbal.

Selain itu, uang pensiun yang dianggap terlalu kecil juga menyulitkan pemenuhan syarat perbankan. Namun dengan adanya jaminan dari Taspen, kendala-kendala itu bisa diatasi.

"Kita harapkan perjanjian kerjasama ini long-term karena pendanaannya juga bersifat jangka panjang. Dengan kerjasama ini diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan hingga 30% dari total KPR yang disalurkan," imbuh Direktur Utama Bank BTN, Maryono.

Menurut Maryono, saat ini tercatat sebanyak 6,7 juta peserta Taspen di mana sebagian di antaranya sudah menjadi nasabah di BTN. "Kalau rata-rata peserta Taspen menabung di BTN minimal Rp 1 juta per orang, maka bisa terjaring dana masyarakat hingga Rp 670 miliar. Jumlah tersebut bisa menambah dana murah sehingga menambah cost of fund BTN secara keseluruhan," ucapnya. (zlf/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed