NJOP DKI Jakarta Naik, Apa Dampaknya?

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Minggu, 08 Jul 2018 09:30 WIB
NJOP DKI Jakarta Naik, Apa Dampaknya?
Foto: Hendra Kusuma/detikFinance

cKeinginan untuk membeli properti atau rumah di Jakarta akan semakin sulit dengan adanya kenaikan NJOP Bumi dan Bangunan tahun 2018.

Country General Manager Indonesia REA Group/Rumah123 Ignatius Untung mengatakan sejatinya harga properti di DKI akan terus mengalami melambung dengan ada atau tidaknya kenaikan NJOP.

Pria yang kini menjabat sebagai Ketua Umum idEA (Indonesian E-commerce Association) itu mengatakan untuk bisa membeli rumah, terutama di DKI maka konsumen harus bisa memaksakan diri.

"Karena walaupun NJOP nggak naik, tapi harga rumah memang pasti naik terus. Market lagi slow saja (harga rumah) naik. Intinya memang harus diprioritasin sih menurut saya," kata Untung kepada detikFinance, Jakarta, Sabtu (7/7/2018).

"Jadi kalau dari sisi pembelinya harus maksain diri, jangan dinanti-nanti. Jadi secara nggak langsung walaupun NJOP nggak naik, harga rumah pasti terus naik, apalagi dengan adanya kenaikan NJOP, tambah naik lagi harganya," sambung dia.

Untuk itu, Untung menyarankan agar setiap orang yang hendak membeli rumah bisa mengatur kondisi keuangannya, seperti soal pemasukan. Dia menyarankan agar pemasukan bulanan yang diterima bisa disisihkan 30% di awal untuk membayar uang muka atau down payment (DP).

"Sebenarnya gini, klau tipsnya untuk pembeli, kalau maksain kan untuk yang sudah telat memang agak susah ya, biarpun semakin ditunda juga makin susah. Penyakitnya selalau gitu, jadi tetap harus dipaksain," kata dia.

"Maka untuk yang belum terlambat itu harus dimulai, mulainya bagaimana? jadi pertama kali terima gaji itu langsung ditabung 30%, itu tabung untuk DP rumah. Nah sekarang kan ada kebijakan lagi katanya mau ada DP Rp 0," tutupnya.