Benarkah Milenial Perlu Subsidi biar Bisa Beli Rumah?

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Selasa, 11 Des 2018 19:53 WIB
Foto: Mindra Purnomo
Jakarta -

Pemerintah dianggap salah memahami permasalahan milenial dalam membeli rumah selama ini. Menurut Country Manager Rumah123 Ignatius Untung, yang harus diperhatikan adalah menggenjot kemauan milenial, bukan justru membuat milenial mampu membeli rumah dengan memurahkannya.

"Pemerintah dalam bikin kebijakan selalu menganggap permasalahan pembelian properti itu masalah kemampuan saja. Permasalahan lebih besar khusus untuk milenial itu bukan kemampuan, tapi kemauan," jelas Untung saat dihubungi detikFinance, Selasa (11/12/2018).

Lebih lanjut Untung menjelaskan, bahwa generasi milenial kini lebih memilih plesiran dibanding kredit perumahan. Bahkan, Untung khawatir akan saling kontradiksinya kebijakan antar kementerian.

Hal ini bisa memicu saling kontradiksinya kebijakan antara Kementerian Pembangunan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dengan Kementerian Pariwisata.

"Milenial ini banyakan nggak mau beli rumah tapi justru maunya jalan-jalan. Nah kebijakan ini justru kontradiktif sama kementerian lain. Khususnya ya Kementerian Pariwisata, yang mau genjot pariwisata nah otomatis milenial makin pengin buat jalan-jalan," katanya.

Justru Untung menyarankan seharusnya pemerintah fokus implementasi program Tapera (Tabungan Perumahan Rakyat). Dia mengatakan Tapera sangat efektif membuat kemauan milenial menabung untuk membeli rumah.

"Dulu pemerintah kan ada wacana mau bikin Tapera, harusnya itu saja dijalanin, orang dengan usia sekian single itu langsung dipotong penghasilannya untuk kredit rumah. Dipotong macam BPJS gitu lho," katanya.

Dengan skema Tapera milenial secara tidak langsung dipaksa untuk membeli rumah.

"Nanti bisa diambilnya langsung ditransfer ke bank bank penyedia KPR baik bank pemerintah maupun swasta. Kalau mau begitu, jadi (milenial) dipaksa untuk beli," ungkapnya.



(eds/eds)