Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 17 Des 2018 10:08 WIB

Pengembang Properti Was-was Bunga Acuan Naik Lagi

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Ilustrasi/Foto: Grandyos Zafna Ilustrasi/Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - Suku bunga acuan menjadi hal yang paling diperhatikan oleh pengembang dalam mencapai target pertumbuhan bisnis properti tahun depan. Bunga acuan yang trennya terus naik menjadi tantangan yang bisa mengancam target pertumbuhan properti yang ujungnya bermuara pada pertumbuhan ekonomi.

Hal tersebut disampaikan oleh Managing Director Sinarmas Land Dhonie Rahajoe dalam acara Property Outlook di Gedung Dhanapala, Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (17/12/2018). Dia berharap Bank Indonesia (BI) bisa mengerem tren kenaikan bunga acuan.

"Perang dagang dan suku bunga The Fed adalah hal yang jadi perhatian untuk pertumbuhan properti 2019. Harapannya pemerintah dapat menjaga tingkat bunga," katanya.


Suku bunga acuan BI akan berpengaruh pada bunga perbankan termasuk bunga kredit pemilikan rumah (KPR). Sementara BI sendiri sudah menaikkan suku bunga acuan sebesar 175 basis poin (bps). Kini BI 7 days reverse repo rate berada di level 6%.

Khususnya di pasar residensial, Dhonie mengatakan secara keseluruhan permintaan atas properti tahun ini belum ada peningkatan yang kuat. Dengan naiknya suku bunga, kondisi itu dikhawatirkan bakal berlanjut di tahun depan.


Belum lagi kenaikan harga tanah di daerah perkotaan yang tak lagi masuk akal menambah beban pengembang untuk bisa menyediakan hunian yang terjangkau buat masyarakat. Terlebih saat ini milenial yang menjadi pasar yang dibidik oleh para pengembang menginginkan produk properti yang lebih menarik.

"Kami sebagai salah satu pelaku besar harus hati-hati jangan sampai ada disrupt. Perubahan teknologi sudah mengubah gaya hidup. Dan gaya hidup sudah pasti mengubah pola konsumsi," katanya. (eds/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed