Butuh Rp 400 T untuk Pindah Ibu Kota, dari Mana Duitnya?

Butuh Rp 400 T untuk Pindah Ibu Kota, dari Mana Duitnya?

Vadhia Lidyana - detikFinance
Minggu, 05 Mei 2019 08:44 WIB
Butuh Rp 400 T untuk Pindah Ibu Kota, dari Mana Duitnya?
Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta - Rencana pemindahan ibu kota baru sudah disiapkan. Desain awal atau kajian yang diperlukan sudah dipresentasikan oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas dalam rapat terbatas (ratas) dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pekan ini. Perkiraan biaya yang dibutuhkan adalah sebesar Rp 400 triliun.

Lalu, bagaimana sistem pembiayaan pembangunan ibu kota baru nanti? Simak berita lengkapnya di sini.

Skema Pembiayaan Ibu Kota Baru

Foto: Rifkianto Nugroho
Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Ahmad Erani Yustika mengatakan, pemerintah tak bakal banyak menggunakan APBN dalam pembiayaan pindah ibu kota. Dia bilang, nantinya pembiayaan pembangunan ibu kota baru akan banyak bersumber dari badan usaha milik negara (BUMN) maupun swasta.

"Pemerintah sendiri nanti akan sangat minimal menggunakan dana dari APBN. Terbatas sekali," katanya dalam acara diskusi perspektif Indonesia di Gado-gado Boplo, Jakarta, Sabtu (4/5/2019).

Selain itu, Erani menjelaskan bahwa penggunaan APBN nantinya tak akan digunakan secara langsung. Maksudnya, seluruh pembiayaan ibu kota baru dari beberapa persen APBN akan dicicil. "Arahan dari Presiden akan sedikit sekali pakal APBN. Karena, APBN nantinya akan diambil dari anggaran multi year," ujar dia.

Rp 400 triliun untuk apa saja?

Foto: Rachman Haryanto
Rencana pembangunan ibu kota baru di luar pulau Jawa diproyeksikan menembus biaya sebesar Rp 400 triliun. Untuk pembiayaannya akan menggunakan sebagian besar hasil dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan swasta.

Baiay tersebut akan dipakai untuk membangun sarana dan prasarana pendukung ibu kota. Antara lain akan disiapkan di ibu kota baru di antaranya adalah kantor-kantor pemerintahan, perumahan aparatur negara, sarana pelayanan sosial dasar seperti sekolah, rumah sakit hingga sarana pelayanan publik lainnya.

"Dalam kajian Bappenas untuk keperluan pemindahan ibu kota yg isinya kantor-kantor, perumahan aparatur pemerintah, sarana pelayanan sosial dasar maupun publik, dan beberapa hal pokok lainnya itu dibutuhkan sekitar 40.000 hektare," kata Erani.

Biaya PIndah Ibu Kota Lebih Murah Dibanding Obati 'Sakit' Jakarta

Foto: Lamhot Aritonang
Kemacetan di Jakarta, termasuk Bogor, Tangerang, dan Bekasi menimbulkan kerugian ekonomi hingga Rp 65 triliun, belum termasuk kerugiam polusi. Hal ini menjadi salah satu 'penyakit' Jakarta yang menjadi salah satu faktor pertimbangan perpindahan ibu kota.

Perpindahan ibu kota dinilai lebih menguntungkan jika dibandingkan harus terus menerus menelan rugi akibat kemacetan Jakarta tadi.

"Pemborosan-pemborosan itu sudah bukan masa nya lagi bagi kita untuk mengkompromikan. Akan lebih murah lagi anggaran tadi dipakai salah satunya untuk pemindahan ibu kota saja dan program-program yang lain," katanya.

Ibu Kota Baru Tak Jadi Pusat Ekonomi RI

Foto: Rifkianto Nugroho
Pusat perekonomian Indonesia sebagian besar ada di Pulau Jawa, terutama DKI Jakarta. Walaupun akan ada ibu kota baru, Jakarta tetap dipusatkan dalam kegiatan ekonomi dan bismis.

"Ibu kota baru tidak dirancang sebagai pusat kegiatan ekonomi. Hanya sebagai pusat pemerintahan dan negara," tutur Erani.

Erani mengatakan, pembangunan ibu kota baru nantinya akan difokuskan untuk kantor-kantor pemerintahan, perumahan aparatur negara, sarana pelayanan sosial dasar, dan sarana pelayanan publik. Infrastruktur-infrastruktur baru tersebut kata dia membutuhkan lahan seluas 40.000 hektare.

Halaman 2 dari 5
(zlf/zlf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads